preloder
sungkeman

Sungkeman merupakan yang lumrah dan sering kita lakukan terutama kepada orang tua atau orang yang dituakan dan masih sebagai keluarga.

Tradisi ini berkembang di Jawa dan dilakukan pada saat-saat tertentu seperti hari raya, pernikahan, atau dalam peringatan tradisi tertentu.

Nah, ada beberapa keterangan hadist yang mengatakan bahwa sungkeman bukan tradisi Islam.

Oleh karenanya sungkeman bahkan dianggap sebagai hal yang sia-sia bahkan bid’ah.

Beberapa hadist Nabi yang dijadikan rujukan adalah sebagai berikut :

 

“Barangsiapa yang suka seseorang berdiri untuknya, maka persiapkanlah tempat duduknya di neraka”. (HR. Abu Dawud: 5229, At-Tirmidzi: 2753, Ahmad 4/93, Al-Bukhari dalam Al-Adabul-Mufrad :977dan Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbahaan 1/219; dishahihkan oleh syaikh Al-Albani dalam Silsilah Shohihah I/627).

Hadist yang datang dari Rasul ini menjelaskan bahwa kita tidak boleh memberi penghormatan kepada seseorang dengan berdiri atau pun sungkem untuk memuliakan dan mengagungkannya.

“Tidak ada seorang pun yang lebih mereka (para shahabat) cintai saat melihatnya selain Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Namun jika melihat beliau, mereka tidak pernah berdiri karena mereka mengetahui kebencian beliau atas hal itu”. (HR. Al-Bukhari Al-Adabul-Mufrad: 946, At-Tirmidzi: 2754 dan Asy-Syamaail:335, Ibnu Abi Syaibah 8/586, Ahmad 3/132 & 134 & 151 & 250, Abu Ya’laa no. 3784, Ath-Thahawiy dalam Syarh Musykilil-Atsar no. 1126, dan yang lainnya; shahih).

Para sahabat tidak pernah berdiri ketika Rasululloh datang, hal ini karena Rasululloh sangat membenci hal tersebut.

Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu Hafizohulloh juga mengatakan bahwa “Pengulangan berdiri untuk mengormati seorang alim ( guru atau ustadz) atau orang yang masuk akan menimbulkan pada diri keduanya rasa cinta terhadap penghormatan dengan berdiri, di mana tidak terdapat perasaan gelisah pada dirinya, dan mereka yang berdiri merupakan pembantu bagi syaitan dalam memberikan rasa cinta penghormatan berdiri bagi yang datang, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian menjadi penolong setan atas saudara kalian” [HR. Bukhari:6781] (Minhaj firqotun najiah wa thoifatul manshuroh hal 128, darul haromain).

Bagaimana menurut anda apakah sumkem kepada kedua orang tua kandung masuk dalam kategori penjelasan hadist diatas ?

Wallahu A’lam Bishawab.

Paling Cantik dan Fashionable
Sedunia !

Cari Tahu di sini !

Smartphone Idaman 2018

Pin It on Pinterest