preloder
bisnis emak

Saya pernah membaca sebuah buku motovasi bisnis bahwa setiap tren baru berpotensi menghasilkan uang. Bagaimanakah caranya yakni dengan mempelajari “bisnis”-nya. Berangkat dari hal itu, saya jadi tergerak untuk membuktikan.

Berjalan-jalan di Pasar Kliwon Kudus secara tak sengaja melihat banyak model produk Jilbab. Walaupun jilbab tidak bisa dikategorikan sebagai produk baru lagi, akan tetapi inovasi jilbab telah memunculkan tren-tren baru dimasyarakat terutama untuk perempuan, apakah itu difungsikan hanya sebagai fashion semata atau memang mejadi kebutuhan menutup aurat yang sesungguhnya.

Saya akhirnya memutuskan untuk membeli beberapa puluh jilbab tersebut dengan maksud saya jual kembali ke ibu-ibu PKK dirumah Jogja. Saya memilih dua jenis model yakni klasik dan jilbab modifikasi. Walaupun trend jilbab sekarang disebut model pashmina, akan tetapi saya juga membeli yang model klasik, karena biasanya lebih abadi dibandingkan dengan yang modifikasian.

Sepulang dari pasar, saya buka bungkusan jilbab tersebut diteras rumah untuk repacking agar tidak menyita space dimobil, maksud saya. Eh, tetangga-tetangga melihatnya dan malah berdatangan untuk meilihat dan mencoba-coba. Alkhamdulillah, akhirnya malah membeli. Laku deh beberapa jilbab tersebut sebelum sampai dijogja.

Nah, saya mencoba menafsirkan kata mempelajari “bisnis-nya” jilbab tersebut, dengan memberanikan diri mengeluarkan sejumlah uang untuk “kulakan” dan memanfaatkan kecenderungan tren baru tentang jilbab. Selanjutnya mungkin membuat showcase kecil-kecilan disudut rumah. Semoga tidak salah !

paper torn

Jengyuni.com adalah personal website yang dibangun dari “ketidaktahuan” dan “keterlambatan” memasuki dunia digital. Di saat orang-orang sudah membuat startup yang menghasilan dollar bertumpuk-tumpuk,
jengyuni masih asik soscmed-an dan malah hanya membaca keberhasilan orang lain di portal-portal berita
melalui layar smartphone yang besarnya tak lebih dari 5 inc.