preloder

 

Angklung adalah alat musik bambu asli Indonesia yang sudah dikenal sejak berabad-abad lalu. Upaya pelestarian angklung tidak pernah terwujud, walaupun pada tahun 1968 melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan pemerintah menetapkan angklung sebagai alat pendidikan musik di sekolah-sekolah.

Melalui SK Menteri tersebut, angklung seharusnya sudah menjadi bahan pengajaran di berbagai jenjang pendidikan di Indonesia. Namun hingga saat ini upaya menghidupkan kembali angklung sebagai alat musik bambu asli Indonesia belum memperlihatkan hasil. Sekolah-sekolah masih sepi angklung. Bahkan, di Bandung, Jawa Barat, tempat asal muasal angklung di Indonesia, jumlah sekolah yang benar-benar mengajarkan alat musik itu bisa dihitung dengan jari.

Klimak pembiaran ini adalah ketika angklung diklaim sebagai warisan budaya dua negara tetangga pada tahun 2010 dan telah telah didaftarkan ke UNESCO, yakni badan PBB yang mengurusi masalah pendidikan, ilmu pengetahuan dan budaya.

Beruntung sekali kita bahwa UNESCO bijak mempelajari sejarah angklung dan menyimpulkan bahwa kesenian musik bambu ini asli milik Indonesia. Akhirnya angklung resmi ditetapkan sebagai “World Intangible Heritage” oleh UNESCO pada bulan November 2010.

Dengan ditetapkannya angklung sebagai warisan budaya dunia, kita pun mestinya bertanggung jawab untuk membuatnya tetap hidup lestari sebagai bagian dari budaya kita. Bagaimana caranya, yakni dengan cara memainkan dan mengenalkan pada dunia.

Bermain angklung pada dasarnya mudah, hanya membutuhkan semangat dan ketelatenan saja. Artinya, siapapun dapat memainkan angklung tidak perduli tua maupun muda bahkan orang awam yang sebelumnya tidak tahu cara memainkannya, dalam waktu 5 menit dijamin mampu memainkannya.

Banyak volenteer dan penggiat seni angklung disetiap daerah yang tulus membantu dan mengajarkan bagaimana bermain musik angklung. Mereka membentuk komunitas kecil di setiap tempat seperti perumahan, sekolah, universitas, instansi pemerintah dan swasta kemudian mulai mengenalkan dan mengajarkan angklung.

Salah satu penggiat kesenian angklung di Yogjakarta adalah Agus Budi Nugroho (Agus Patub) yang juga pendiri KSBN (Komunitas Suling Bambu Nusantara). Atas inisiasinya, maka pada tahun 2010 KOMALA (Komunitas Angklung Laras Asri) yang berada diperumahan tempat tinggal saya terbentuk. Sabtu (28/3) kemarin, Komala juga berpartisipasi dalam “Konser Rumah 4 Komunitas” yang diadakan di GOR Gajahmada Asri Turi Sleman Yogyakarta.

Tengoklah video dokumentasi dibawah ini…

 

 

 

paper torn

Jengyuni.com adalah personal website yang dibangun dari “ketidaktahuan” dan “keterlambatan” memasuki dunia digital. Di saat orang-orang sudah membuat startup yang menghasilan dollar bertumpuk-tumpuk,
jengyuni masih asik soscmed-an dan malah hanya membaca keberhasilan orang lain di portal-portal berita
melalui layar smartphone yang besarnya tak lebih dari 5 inc.