preloder

Thank You

 

Selalu menarik ketika berkumpul dengan teman-teman seperjuangan sesama “Tukang Ojek’ Si Kecil ke sekolah. Selain bisa ber ha ha..hi..hi juga bisa sharing tentang apapun.

Nah ketika bertemu setiap pagi maka tempat favourite untuk ngumpul adalah KANTIN YU TOEM. Apa sih asiknya di situ? …yang asik adalah Jahe seduhnya. Saya menyebutnya sebagai Jahe ++ [baca Plus-Plus]. Selain racikannya pas banget, plusnya adalah “Plus Bisa Ngutang”!. Tentu saja ini terjadi bila ‘jatah’ bulanan suami tak kunjung datang’.

Akan tetapi, untuk bisa ngutang Yu Toem menerapkan kata sandi alias ‘Password’, yakni sebelum duduk bilang saja “Yu, ngutang ya…atau saya sumpahin gak laku !” pasti deh…Yu Toem bilang “Iya mbak, Silahkan,…saya iklas kok !Tuh…legowo banget, kan ?

Yang membuat simpatik saya kepada Yu Toem adalah, dia selalu mengucapkan “Matur Nuwun” alias terima kasih manakalah pembeli selesai makan dikantinnya walaupun makannya Ngutang. “Natur Nuwun ya…besok datang lagi” itu yang selalu dikatakannya.

Masing-masing kita pasti tidak bisa memenuhi kebutuhan sendiri. Kita hidup dengan bantuan orang lain, disadari ataupun tidak disadari. Oleh karena itu, ada “budi/jasa” orang lain yang menempel dalam diri kita dan juga sebaliknya. Sehingga, sudah sepantasnyalah “ucapan terima kasih” terlontar dari mulut kita kepada orang lain yang berinteraksi dengan kita, baik sebagai ungkapan yang tulus atas bantuan orang lain atau hanya sekedar “bahasa” mengakhiri pertemuan dan perbincangan semata.

Ucapan terima kasih adalah universal, ‘gak perduli pada dialektika barat maupun timur. Ucapan terima kasih adalah milik dunia dan kehidupan ini. Secara implisit mensyiratkan pengakuan diri atas kelemahan sebagai manusia, hina dina dan penuh dengan kekurangan dimata Sang Pencipta. Mengucapkan terima kasih juga sebagai bukti bahwa kita adalah makluk sosial yang beradab dalam berperilaku sosial.

Sampeyan pasti sependapat dengan saya, bahwa tidak ada yang lebih menyejukkan di hati selain ucapan terima kasih dan senyuman yang tulus. Tidak ada penghargaan yang lebih berharga selain ucapan terima kasih yang tulus.

Seorang pembantu rumah tangga akan “betah” untuk mengabdi tulus ikhlas kepada sang majikan hanya karena selalu mendapatkan ucapan terima kasih atas kerjanya. Walaupun sang majikan tahu masih banyak kekurangan atas kerja si pembantu itu.

Seorang karyawan akan senang hati bekerja overtime tanpa lelah dan tidak terlalu memusingkan uang lembur bila sang Bos selalu mengucapkan terima kasih dengan tulus atas jerih payah dan dan usah keras anak buahnya.

Ucapan terima kasih sangatlah ajaib, melebihi motivasi yang diucapkan oleh motivator yang digaji puluhan juta sekali sessi bicara. Ucapan terima kasih adalah “obat” atas kejemuhan, kejenuhan dan sumpeknya hati karena pekerjaan yang terus mengalir tanpa henti.

Bila diri kita adalah seorang pemimpin maka senjata tajam yang harus miliki adalah “ucapan terima kasih yang tulus”, bukan power dan kekuasaan seolah yang paling kuasa. Bukan pula ancaman atau intimidasi. Percayalah bahwa ucapan terima kasih adalah sumbunya kerukunan, persaudaraan dan perdamaian.

Mengucapkan terima kasih tak akan menurutkan gengsi dan derajat seseorang. mengucapkan terima kasih justru menghilangkan keangkuhan dan kesombongan seseorang. Lupakan gelar kesarjanaanmu, lupakan dirimu lebih tua dan lebih pinter dari orang lain, lupakan bahwa engkau kaya 7 turunan, posisikan orang lain disekitarmu setara dan sederajat denganmu dan berterimakasihlah kepada orang lain, karena engkau membutuhkannya.

Dengan selalu berterima kasih ini, Yu Toem menikmati hidup apa adanya dan berhasil membeli rumah seharga 350 Juta hanya dengan jualan makanan ala kadarnya di pojok sekolah. Yu Toem juga sukses menghantarkan anak perempuannya selesai kuliah.

Terima kasih juga saya ucapkan atas waktu sampeyan yang telah membaca tulisan singkat ini. Semoga masuk surga bersamaku kelak, Insya Allah. Amien.