preloder
kuliner salatiga

Melakukan perjalanan malam ketika “mudik” ke Kudus atau Brebes nampak menjadi kebiasaan yang seru. Selain karena alasan kepadatan lalu lintas jauh lebih berkurang bila malam hari, juga karena alasan kulineri.

Pak sopir selalu mengambil jalur Klaten, Boyolali, Salatiga terus sampai Semarang. Setelah itu baru mengambil jalur ke Jakarta bila mau ke Brebes dan jalur Surabaya bila ke Kudus.

Alasan kulineri, apa maksudnya ? Kalau itu mah menyangkut urusan “kampung tengah” alias perut. Tingkat kelaparan itu muncul ketika sampai di Boyolali atau Salatiga. Perut mendadak dangdut begitu dan harus dinetralisir. Nah, disepanjang jalan itu sudah terlihat kuliner-kuliner pinggir jalan yang tidak kalah dibanding dengan kuliner hotel berbintang. Biasanya mulai buka menjelang sore hingga tengah malam.

Kuliner ini, saya menyebutnya sebagai kuliner ala Koboy. Karena akan bertambah nikmat bila dinikmati dengan gaya koboy, duduk bersila atau selonjoran. Biasanya saya merayu pak sopir untuk sekedar berhenti walau hanya satu jam untuk berburu kuliner tersebut. Yang menjadi incaran saya adalah mie jawa godog (MJG). Tidak terlalu maniak sama mie godog sih, tetapi memang sangat suka.

Seperti malam tadi, hasrat untuk mencicipi kuliner terlampiaskan juga. Kali ini didaerah Ampel Boyolali. Pak sopir akhirnya atas “perintah” saya berhenti di sebuah warung tenda biru yang menyajikan masakan-masakan jawa. Tenda Pak Yudi Kampiun, namanya. Tenda Pak Yudy ini berada didepan halaman toko bangunan dengan tikar pajang membentang untuk pengunjung yang pada antri.

Hasrat menyantap mie jawa godog ala chef Yudi serasa nikmat. Apalagi kebetulan saat itu suasana hujan dan udara dingin. Jadi kebayang kan, betapa nikmatnya seporsi mie godog dengan segelas teh hangat? Apalagi porsinya lumayan jumbo hingga pak sopir bilang,” Itu makan mie tau mau bunuh diri”. Ha..ha..ha.. Kalau Pak Dhe Bondan selalu bilang “Mak Nyus”, kalau saya bilangnya “Mak Jos !”

Melanjutkan perjalanan kembali hingga Semarang kemudian masuk ke Demak “Kota Wali”. Pak sopir sengaja mengambil jalur alun-alun Demak, tidak melewati jalan lingkar. Kali ini pak sopir yang mendadak berhenti di alun-alun. Yang dicari adalah kuliner laut. Apakah itu, adalah kerang goreng atau kerang godog. Ini tidak direkomended bagi yang alergi.

kuliner demak

Saya yang semula enggan karena belum pernah sebelumnya. Akhirnya malah nambah porsi. Sensasi mensisipi kerang goreng ala Demak pesisir sangat aduhai seperti lagunya mbah haji Rhoma Irama. Entah bumbu apa yang dipakainya, begitu kerang disesep diujung lidah bumbunya sudah terasa sekali. Dijamin anda akan menambah porsi kalau hanya memesan sepiring kerang saja. Bikin ketagihan!

Silahkan dibuktikan sendiri, bila anda kebetulan melakukan perjalan ke arah Kudus atau Pati melewati Demak.

paper torn

Jengyuni.com adalah personal website yang dibangun dari “ketidaktahuan” dan “keterlambatan” memasuki dunia digital. Di saat orang-orang sudah membuat startup yang menghasilan dollar bertumpuk-tumpuk,
jengyuni masih asik soscmed-an dan malah hanya membaca keberhasilan orang lain di portal-portal berita
melalui layar smartphone yang besarnya tak lebih dari 5 inc.