preloder
Nasionalisme

Saya yakin, bahwa siapapun orangnya yang mengatakan Aku Cinta, Bangga dan Sayang Indonesia atau mengucapkan kalimat serupa yang tersusun atas kata “Aku dan Indonesia”, sesungguhnya telah terjerumus pada kontroversi hati yang berdarah-darah.

Kalimat ini dipaksa untuk menciptakan kesan dramatik dan patriotik kepada republik ini tanpa bisa menjelaskan esensi maknanya secara tepat.

Saya tidak bermaksud menghakimi siapapun. Saya juga sering menggunakan kalimat itu untuk alasan tertentu.

Artinya, saya pun terjebak pada kontroversi hati dan perasaan yang sama bahwa sesungguhnya saya juga gagu bila ditanya apa alasan mengatakan Cinta, Bangga dan Sayang Indonesia.

 

Cinta, Bangga dan Sayang Indonesia itu mempunyai makna nasionalisme. Thus, ketika kita bicara tentang nasionalisme, maka ujung-ujungnya adalah semangat memberi secara ikhlas (sincere), memiliki secara kaffah (Sense of Belonging), membangun dengan bijak (Develop) dan persatuan (unity) untuk Indonesia.

Memangnya, apa yang telah kita lakukan untuk negeri ini?

Bangsa ini tidak membutuhkan pengakuan, bahwa saya dan anda (mungkin) sedang terjebak pada nasionalisme semu yang berlarut-larut. Terkadang bahkan ikut-ikutan latah, terdampar dalam kubangan sikap yang kurang bijak sebagai orang Indonesia yang terkenal santun dan menjunjung tinggi adat ketimuran. Entah apa yang telah menyulap kita. Sepertinya masing-masing semakin asyik menjadi entitas sendiri-sendiri dan mendewa-dewakan primordial. Akhirnya, melemahlah semangat kebangsaan yang berpotensi memicu disintegrasi dan keributan.

Diakui atau tidak, kita semakin ‘terbiasa’ dengan kata ribut. Bahkan beberapa negara menvonis kita sebagai bangsa dengan warga negara yang suka ribut. Beda calon lurah ribut, beda klub sepak bola ribut, beda pendapat ribut, apalagi beda partai atau calon presiden. Lihat saja kondisi bangsa ditengah pilpres saat ini, 100% membenarkan ‘tuduhan’ tersebut.

Makna Aku Cinta, Bangga dan Sayang Indonesia nyaris runtuh. Negara yang indah ini seperti berubah menjadi “Ladang Kurukshetra”, arena ‘peperangan’ berbagai kubu yang berbeda secara idiologi. Tidak nampak adanya nasionalisme Indonesia lagi, yang tersisa hanya ‘Aku dan Kamu’.

Beeuh..! peperangan yang sia-sia, menurut saya. Mereka lupa, bahwa sesungguhnya seluruh elemen yang menyusun kebangsaan ini adalah bersaudara. Mereka diikat oleh Sumpah Pemuda, Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Mereka juga lupa terlahir dari rahim yang sama yakni proklamasi 17 Agustus 1945. Apa yang salah?

Sepertinya ada kesalahan penafsiran atas nasionalisme Indonesia. Sikap nasionalisme ditafsirkan hanya diperlukan bila negara mendapatkan potensi ancaman dari luar, atau ketika atlit-atlit Indonesia bertanding dengan negara lain. Gegap gempitalah nusantara dengan meneriakan Indonesia…Indonesia dan Indonesia! Ini adalah pemahaman yang salah dan berpotensi menjadi bahaya laten dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemahaman yang menisbikan arti nasionalisme itu sendiri.

Mari kita akui, bahwa sejujurnya nasionalisme kita kalah dengan para TKI atau TKW yang mengais rejeki di negeri orang. Mereka hidup berjarak ribuan kilometer dari tumpah darah Indonesia. Sangat Ironis, karena mereka lebih bisa memaknai Cinta, Bangga dan Sayang Indonesia dibandingkan kita yang berada di tanah sendiri. Lihatlah apa yang mereka lakukan ketika salah satu dari mereka terkena masalah. Mereka bersatu padu membela bukan karena solidaritas semata, akan tetapi secara intrinsik menjaga harga diri dan martabat bangsa.

Sangat disayangkan bahwa ada beberapa hal penting yang telah dilupakan pasca reformasi 16 tahun lalu hingga sekarang. Salah satunya adalah merosotnya semangat nasionalisme berbangsa dan bernegara yang saya sebut diatas. Telepas dari Indonesia dipimpin oleh siapa dan kebijakan yang bagaimana, saya sendiri masih mengganggap betapa penting menghidupkan kembali pembelajaran tentang P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila), yang ketika jaman Order Baru menjadi projek unggulan seperti halnya GBHN, Pelita dan sebagainya.

Di dalam pelajaran P4 ini banyak di temui dogma dan doktrin tentang bagaimana menjadi warga negara yang baik dan nasionalisme. Ini sangat berguna bagi generasi mendatang ditengah-tengah kaburnya sekat-sekat geografis antar negara karena globalisasi.

Saya bukan anti reformasi atau pro pada order-order tertentu, saya hanya melihat dari segi manfaat dan esensinya, bahwa sudah sangat urgent menumbuhkan kembali jiwa nasionalisme Indonesia yang mulai layu. Berharap kalimat Aku Cinta, Bangga dan Sayang Indonesia kembali menjadi semangat kebangsaan yang sempurna.