Ramadan #DiRumahAja Tetap Happy di Tengah Pandemi

Dari teras rumah, saya termangu memandangi senja yang memerah di ufuk barat. Kepak sayap burung-burung pulang ke sarang dan binatang malam mengiringi sang surya masuk ke peraduan. 

Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara azan margrib mengalun merdu dengan irama menyentuh dan menyayat hati. 

“Alhamdulillah, Marhaban Ya Ramadan.” Kata saya terbata-bata. Tubuh saya bergetar. Tanpa sadar air mata pun deras membasahi pipi. Saya menangis sesenggukan seperti anak kecil yang kehilangan mainannya. 

Ya, itu senja pertama Ramadan, bulan suci penuh berkah dan ampunan yang saya nanti 11 bulan berlalu. Saya bersyukur masih menjumpainya lagi walaupun ramadan kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. 

Sepanjang hidup, ini pertama kalinya saya menjalani Ramadan #DiRumahAja, Ramadan dalam suasana keprihatinan karena pandemi. 

Walaupun memberi kesan tersendiri, namun saya akui ada perasaan sedih, rindu dan kehilangan. Hari pertama saja saya sudah disergap rasa rindu. Ya, rindu berjalan beramai-ramai bersama keluarga dan tetangga untuk sholat tarawih berjamaah di masjid kampung. 

Mulai malam itu pula, saya pun kehilangan suara terompah dan senda gurau anak-anak berkeliling kampung membangunkan warga untuk sahur dengan bunyi-bunyian seadanya.

“Sahur sahur sahur..!”

Ya. Ramadan kali beda karena #DiRumahAja.

Ramadan #DiRumahAja Bisa Menyelamatkan Banyak Jiwa

Saya tak mau egois. Saya masih bisa menyimpan rasa rindu itu untuk beberapa lama, bahkan sampai Ramadan tahun ini berlalu. Biarlah. 

Bagi saya, sholat tarawih di masjid memang mengasikkan, namun lebih penting lagi adalah menjaga diri dan keluarga tetap sehat dengan menjauhi pandemi atau wabah. Begitu yang diajarkan agama.

Sejak muncul di Wuhan akhir tahun lalu, virus yang oleh WHO di sebut Covid-19 ini telah menjadi pandemi global dan menyebabkan begitu banyak kematian di seluruh dunia. 

Seperti deret ukur, jumlah mereka yang tertular dan meninggal terus bertambah setiap hari. Begitu pula di negara kita yang sampai saat ini belum ada indikasi penurunan.

Update Data Covid-19

Indonesia

Tentu saja saya tak ingin tertular dan menularkan virus mematikan ini kepada keluarga. Maka, menurut saya menjalankan ibadah Ramadan #DiRumahAja adalah kompromi paling realistis di tengah pandemi. 

Selain itu, Ramadan #DiRumahAja juga menjadi bentuk dukungan dan kepatuhan saya terhadap anjuran pemerintah (umara) dan alim ulama dalam memutus mata rantai penyebaran virus.

“Saatnya kita kerja dari rumah, belajar dari rumah, ibadah di rumah.” begitu kata Presiden Joko Widodo dalam konferensi pers di Istana Bogor beberapa waktu lalu.

Dengan mengikuti anjuran ini bisa jadi saya telah menyelamatkan diri, keluarga dan orang lain dari potensi tertularnya Covid-19.

Tetap Happy dan Menikmati Ramadan #DiRumahAja

Saya akui awalnya saya memang takut dan panik. Apalagi setelah membaca berita lokal bahwa virus ini sudah masuk Berbah, Jogja. Hah? Itu jaraknya dekat dengan tempat tinggal saya. 

Kepanikan saya juga karena informasi bahwa mereka yang tertular pun nampak sehat, tidak menunjukan gejala infeksi seperti demam dan sesak napas. Bahkan, tidak bergejala sama sekali (asimtomatik) dalam 14 hari masa inkubasi virus. 

Karena panik dan cemas, pikiran buruk malah semakin menghantui. Bagaimana kalau tertular dan tidak sembuh, bagaimana dengan anak-anak saya yang masih kecil, dan bla bla bla.  

Beruntung suami selalu memotivasi agar saya realistis bahwa Covid-19 itu nyata dan mematikan. Hal penting adalah bagaimana menghindarinya. 

Berita postif juga membantu saya semakin tenang. Saya jadi mengerti bahwa panik, cemas dan stress malah berbahaya.  Ini menyebabkan imunitas menurun dan rentan terhadap penyakit, termasuk terinfeksi virus Corona ini.

Hal serupa disampaikan Wiene Dewi, Psikolog dari Himpunan Psikolog Indonesia,

“Jika kita marah, cemas, sedih dan tertekan maka otak mengeluarkan hormon noradrenalin yakni hormon beracun yang melemahkan fisik,  gampang sakit, cepat tua dan cepat mematikan syaraf,” 

Dari sini, tak ada pilihan lain bagi saya selain tetap tenang dan selalu happy agar imun tubuh tidak ngedrop. Apa yang saya lakukan, adalah dengan hal-hal sederhana sebagai berikut:

01 Melakukan Banyak Hal Bersama dengan Gembira

Salah satu hikmah adanya Covid-19 adalah intensitas kebersamaan keluarga menjadi lebih baik. Dalam keadaan normal, saya sendiri sulit mendapatkannya.

Anak sulung saya Arya misalnya. Ia yang duduk di kelas 11 SMK berangkat sekolah sebelum jam enam pagi dan sampai di rumah jam delapan malam. Begitu pula Ayunda. Ia pun selalu pulang sore karena sekolahnya Full Day School. Praktis di rumah hanya ada suami dan si kecil, Amarendra.

Selama Ramadan #DiRumahAja saya sekeluarga sepakat melakukan aktivitas dan ibadah bersama dengan gembira. Sebut saja seperti mempersiapan sahur dan berbuka, sholat berjamaah, tadarus Al-Quran, bersih-bersih rumah, olah raga dan sebagainya.

Namun ada momen kebersamaan favorit keluarga yang dilakukan menjelang berbuka puasa yakni ngumpul bersama di sawah belakang rumah. Ah, saya merasa santai, rileks, aman, damai dan bahagia. Di saat itu, sejenak bisa melupakan pandemi dan hutang :).  

02 Nonton Video Lucu dan Streaming Film

Beruntung di rumah tersambung indihome. Walaupun paket internetnya kasta terendah (10 Mbps), namun cukup menyediakan akses internet dan hiburan bagi keluarga.   

Nah, agar bisa menikmati hiburan online bersama melalui TV, suami berinisiatif membeli STB (Set up Box) yakni perangkat digital yang dapat mengubah TV jadul menjadi Smart TV. 

Harga STB ini terjangkau, mulai 200 ribu-an. Cek saja di https://shopee.co.id dengan keyword “Set Up Box”. Harga bahkan bisa lebih murah kalau belinya di bulan promosi seperti saat ini karena lagi ada Big Ramadan Sale di Shopee.     

Dengan periperal ini saya sekeluarga semakin enjoy menikmati Ramadan #DiRumahAja dengan nonton video lucu, edukatif dan religi di youtube atau streaming film melalui Iflix, Viu, Hooq, dan sebagainya.   

03 Berburu Koin, Voucher, Giveaway dan Berdonasi dengan Main Game Shopee Tanam dan Nonton Shopee Live

Hal menarik yang membuat Ramadan #DiRumahAja tetap menyenangkan adalah memainkan game Shopee Tanam. Selain menghibur, dengan game ini saya bisa mengumpulkan koin Shopee yang bisa dipakai untuk berbagai hal. Tempo hari, koin yang terkumpul saya pergunakan sebagai voucher pembayaran tagihan listrik dan mengurangi biaya kirim ketika belanja di #ShopeeDariRumah. 

Namun tak melulu tentang voucer, dengan game ini saya juga bisa melakukan kebaikan walaupun #DiRumahAja yakni dengan donasi beras dari “pohon beras donasi” yang saya tanam. Oleh Shopee, donasi beras tersebut akan didistribusikan kepada mereka yang membutuhkan melalui BAZNAS.  

Game ini memang menarik. Saya bahkan masuk group WA para pemain Shopee Tanam agar bisa saling bertukar link pohon, saling siram dan panen bersama.  

Selain Shopee Tanam, saya juga mencari hiburan dengan nonton Shopee Live. Streaming live para tenant ini juga menyediakan bonus berupa koin, voucher bahkan giveaway. Baru-baru ini saya beruntung memenangkan giveaway sebuah tas wanita dari @ibags_batam. 

  •  Slide Title
Device Slider

04 Mendampingi Anak Belajar Berbisnis

Selama diberlakukan sistem belajar online, anak-anak menjadi banyak waktu luang. Oleh Arya, waktu luang dimanfaatkan untuk berlajar berbisnis. Ia membuat berbagai kue yang dijualnya secara online melalui WA dan media sosial by request. Ia bahkan ingin menjadi tenant di Shopee khusus kue-kue kering.

Begitu juga Ayunda. Setelah ujian secara online, ia pun tertarik belajar berbisnis. Berbekal honor novelnya yang diterbitkan oleh Mizan Publishing, ia membeli satu bal snack tortilla. Tortila tersebut di packing kecil-kecil, diberi label sendiri kemudian dijual melalui WA dan didrop ke warung-warung sekitar rumah. 

Sebagai orang tua, saya hanya bisa mendukung yang mereka lakukan. Siapa tahu menjadi jalan suksesnya kelak. Namun yang penting, mereka bisa mengisi Ramadan #DiRumahAja dengan happy. 

05 Keep Connecting dengan Keluarga Besar

Jujur, selama Ramadan #DiRumahAja saya juga kangen dengan ibu yang semakin menua. Beliau adalah keramat saya, yang tidak hanya saya sanjung ketika hari ibu tiba namun juga selalu saya sebut dalam setiap untaian doa.

Biasanya pertengahan Ramadan saya sudah mudik ke Brebes, berkumpul dengan ibu dan keluarga besar. Namun karena pandemi, saya pun mengikuti ajuran untuk #TundaMudik dulu tahun ini.

Sebagai pengobat kangen saya selalu video call. Ah, melihat senyum ibu dan keluarga di Brebes, saya semakin termotivasi untuk tetap tenang, selalu happy serta semangat bertahan hidup di tengah pandemi.

06 Semakin Happy dengan Hobby

Selama Ramadan #DiRumahAja saya juga tetap ngeblog. Hobby yang saya tekuni sejak 3 – 4 tahun lalu ini tetap mengasikkan dan memberi hiburan tersendiri karena menawarkan kebebasan berekspresi melalui tulisan.

Hal yang sama juga dilakukan suami yang baru beberapa bulan tertarik dengan blogging. Ia bahkan ngeblog sambil menjaga toko kelontong kecil di depan rumah yang menjadi sumber penghidupan keluarga. 

Tak jauh beda dengan saya dan papanya. Ayunda juga tetap happy menulis novel, cerita pendek serta cerita komik sedangkan Arya lebih senang bermain dengan si kecil Amarendra sambil mendengarkan musik.  

Keyboard
Kue
Cofee

Yang Penting Happy

Beda orang, beda pula gaya selama Ramadan #DiRumahAja. Namun, semuanya pasti berkesan walaupun penuh Keterbatasan. Yang penting tetap tenang dan happy agar imunitas tubuh tidak ngedrop yang memudahkan tertular Covid-19.

Ya. Saya pun terus berharap pandemi ini segera berlalu karena ada banyak hal yang belum tergapai. Serta, agar Ayunda tak bertanya lagi dengan pertanyaan yang sulit saya jawab. 

“Apakah Allah sedang murka, Ma?” Tanyanya.

“Bisa jadi, Dek. Mungkin sekedar peringatan kepada hamba-Nya agar tidak melulu lupa.” Jawab saya sambil membuka pintu depan.

Alhamdulillah, belanjaan saya di Shopee telah sampai. Ini cara saya memenuhi kebutuhan keluarga selama Ramadan #DiRumahAja.     

Kontes Blog #THRBigRamadhanSale2020 Bersama Shopee

Related Post
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});