preloder
Motor Yamaha

Sampeyan boleh percaya atau tidak, bahwa sejak menikah hingga sekarang keluarga kecil saya sudah 4 (empat) kali ganti motor. Uniknya keempat-empatnya adalah motor Yamaha. Banyak yang bilang kalau keluarga saya itu Yamaha maniak, Yamaha lover, Yamaha addicted…whateverlah. Saya mah seperti kata Jamal Mirdad saja, yang penting happy. 🙂

Bagi saya sepeda motor itu seperti soulmate jadi butuh semacam kemistri. Kalau sudah merasa cocok kenapa mesti ganti merk lain. Saya percaya bahwa setiap produk punya comparative advantage tertentu, jadi tinggal sinkronisasi saja dengan ekspektasi apakah mau yang irit, cepat, tangguh atau harga terjangkau. Seperti itu..

Setiap orang juga pasti mempunyai pengalaman seru dengan motornya, begitu pula saya. Masing-masing motor Yamaha yang pernah saya miliki tersebut juga menorehkan pengalaman seru yang mustahil untuk dilupakan. Rasanya itu seperti permen nano-nano gitu ada asem, asin, kecut dan manis. Here it is…

BISA NAIK MOTOR GARA-GARA MIO

mio

Motor pertama adalah Yamaha Mio jari-jari, Si Kuning saya menyebutnya karena warnanya memang Kuning. Mio Kuning ini belinya di sebuah dealer Yamaha di kota kelahiran Ibu Kartini, Mayong Jepara tahun 2003. Kebetulan saat itu keluarga kecil saya tinggal di daerah Singorojo, kurang lebih 3 km dari dealer.

Tunai? Bukan, belinya kredit DP Rp 1,5 juta tetapi tenornya pendek cuman 11 bulan gitu dan leasingnya pakai resminya Yamaha, BAF (Bussan Auto Finance). Serunya itu motornya enggak bisa langsung dibawa pulang. Saking larisnya maka harus indent dulu. Enggak heran deh kalau nama YAMAHA sampai diplesetkan jadi YAng MAu Harap Antri. Ada kebanggaan tersendiri walaupun harus nunggu beberapa hari.

Mio memang sangat ngetren di Jepara waktu itu. Hampir setiap hari lihat mobil dealer nganter Mio yang dihias pakai pita warna-warni. Tahu enggak kenapa begitu? Itu Mio ternyata dipakai buat maskawin atau lamaran, lho. Hampir semua type mio laris pokoknya. Itulah Jepara, masyarakatnya memang punya citra rasa tinggi dan suka yang unik-unik. I Missed You, Mayong Jepara.

Si Kuning ini berjasa sekali. Berkat dia inilah saya bisa naik motor untuk pertama kali. Belajarnya di depan kecamatan Mayong kalau sore hari dengan puter-puter halamannya yang luas. Maaf Pak Camat Mayong, saya baru ngaku sekarang 🙂 . Ketika proses belajar naik motor itu, beberapa kali saya harus berurusan sama aspal alias jatuh. Kenang-kenangan dari Si Kuning ini adalah bekas luka di kaki yang masih membekas sampai saat ini. Yah..namanya juga lagi belajar kan, “jer basuki mowo bea” kata orang Jawa.

Si Kuning menjadi teman setia selama 16 bulan saja. 5 bulan setelah lulus kreditnya harus dijual, separo duitnya buat biaya pengobatan ayah mertua dan sisanya buat ambil motor lagi. Lumayan masih tinggi harga bekasnya, malah hampir mendekati harga OTR-nya. Mungkin karena suami ngejualnya pada pemakai langsung kalee ya..

VEGA BIRU YANG IRIT

mio

Motor Yamaha kedua yang pernah saya miliki adalah Vega R warna biru produksi tahun 2004. Ini juga dibeli dengan cara kredit melalui leasing yang sama, tetapi kali ini tenor agak panjang yakni 23 bulan. Lupa pakai DP berapa. Pakai Vega lumayan lama nih, hampir 5,5 tahunan. Awalnya sih agak kikuk pakainya karena sudah terbiasa pakai matic sebelumnya. Tetapi lama-lama sih jadi terbiasa juga.

Walaupun demikian saya ngerasa masih asik pakai matic deh, tinggal stater langsung ngacir gitu. Serunya saat pakai vega saat itu adalah awet, tangguh dan irit. Paling tidak itu yang ada dalam memori saya. Selama waktu itu, tidak pernah ganti spare part yang berat. Paling-paling ganti ban roda, ganti olie dan service ringan lainnya.

Pengalaman terseru ketika masih pakai Vega R ini adalah touring pribadi bersama suami dengan mengambil jalur Mayong-Bangsri-Pati-Mayong. Jalur yang seru karena mengitari Gunung Muria. Tiga hari tubuh merasakan capek bukan main tetapi meninggalkan kesan yang mendalam.

Bagi saya, itu adalah pengalaman terjauh naik motor (walaupun mbonceng). Kita berangkat pagi-pagi habis subuh. Sesampainya di pati langsung berburu kuliner khas nasi gandul. Sebelum pulang ke Mayong, dari pati mampir rumah mertua dulu di Kudus.

Vega R inipun akhirnya terjual, juga untuk biaya rumah sakit. Kali ini adik ipar perempuan paling bontot yang opname. Seminggu di RS Mardi Rahayu Kudus tapi tidak kunjung sembuh. Terakhir ketahuan kalau kena sihir alias guna-guna. Atas ijin Allah, sembuhnya setelah “disembur” sama pak kyai pakai do’a.

MIO CW YANG BIKIN PEDE

mio

Medio 2010 keluarga kecil saya pindah domisili ke Kalasan Jogja ngikutin kerja suami. Sempat enggak punya motor. Duit ludes buat pindahan, syukuran, dan beli perlengkapan rumah tangga. Beberapa bulan setelahnya baru bisa beli motor lagi. Tunai? Enggak juga, masih saja kredit 18 bulan, lha wong uangnya tidak cukup untuk beli tunai, je.

Karena terlanjur cintrong sama yang motor matic, akhirnya saya pun merajuk pada suami untuk pilih matic. Honda atau Suzuki-kah? Bukan. Motornya Mio lagi. Padahal hampir tiap pagi ada brosur dan gambar motor Honda di teras rumah, lho. Marketingnya ngubek-ubek sampai kampungku hii..hi..hi.. masa bodoh ah. Sudah ngrasain asiknya naik mio gitu loh.

Tapi kali ini ada kemajuan dikit neh, Mionya Racing (CW) warna Merah Darah. Mio ini belinya di dealer Yamaha SBM Kalasan. Lumayan deket tuh dengan rumah. Asiknya pakai Mio Cw ini adalah posisi kaki bisa nyaman banget dan enggak ketinggian. Trus warnanya bikin tambah percaya diri. Saya memang suka warna-warna gelap ketimbang glamour. Menurut saya warna-warna seperti ini nampak lebih ekslusive.

Uniknya kalau pas waktunya service. Gara-gara saya belum punya SIM saat itu, service motornya enggak berani ke dealer tetapi “in house mechanic visit”. Kayak juragan ya….he..he..he… Biasanya saya telpon dealer untuk mendapatkan layanan service di rumah.

“Pagi mbak Yamaha, mohon maaf ini dari Yuni Kalasan, mio saya nangis nih mbak.” kata saya.

“Maaf ibu Yuni, kok nangis. Memangnya belum imunisasi ya?” Tanya Mbak Service Counter di ujung telepon.

“Iya nih mbak, butuh dokter. Jam berapa Bisa,” Tanya saya.

“Sebentar Bu, saya tanyakan sama kepala dokternya……….oh ya, jam 10-an bu,” Jawab mbak counter lagi.

“Ok deh…saya tunggu ya. Oh ya sekalian minta bawa vitaminnya ya..” Pinta saya

“Baik, bu Yuni,” Jawab mbak Counter sambil menutup telpon.

Memangnya begitu? He..he..he.. ya enggaklah kaya film James Bond saja. Yang pasti servicenya memang di rumah dan biasanya tetangga juga ikutan service motor Yamahanya, jadi ramai-ramai gitu. Sesuai dengan kebiasaan Wong Jowo, biasanya mekanik-mekanik yang service juga disugihin ala kadarnya loh, sebagai rasa terima telah meluangkan waktu melayani service motor di rumah. Nah, itu tuh penampakan motornya di atas…

Kebersamaan dengan Mio CW merah marun ini lumayan lama, kurang lebih 3,5 tahunan. Tetapi sayang sekali, Mio inipun harus dijual lagi pada akhirnya. Suatu hari adek Ipar laki-laki datang ke Jogja, ngomong kalau butuh duit banget untuk modal usaha pasalnya adik ipar kena perampingan alias PHK dari pekerjaannya. Butuhnya banyak banget. Bilangnya sih mau kulakan ikan dari Juwana trus di drop ke pasar-pasar.

Sumpah, semula saya pribadi agak keberatan mengingat Mio itu satu-satunya motor di rumah. Tetapi rasa hati tidak tega manakala melihat keponakan-keponakan yang masih kecil-kecil di Kudus. Akhirnya saya ngikutin keputusan suami yang mengiyakan permintaan adik ipar dan menjual Si Mio. “Sudahlah, Ma. Ambil hikmahnya saja. Tuhan pasti akan menggantinya,” Kata suami.

Hari itu juga langsung di tawarin lewat OLX dan 1,5 Jam setelah tayang langsung ditawar orang. Pembelinya adalah mahasiswi dari luar Jawa yang lagi kuliah di UGM. Setelah Mio itu terjual, hampir 3 bulan hidup tanpa sepeda motor. Untung saja sekolah anak dan pasar hanya berjarak beberapa ratus meter dari rumah, jadi tidak terlalu nelangsa.

MIO GT YANG INJEKSI DAN IRIT

mio

Tuhan memang Maha Penolong. Benar apa kata suami, ada hikmah di balik semua peristiwa itu. Tanpa diduga Ibu saya dari Brebes telpon kalau mau ngajukan pinjaman ke BPD dan nawarin kalau-kalau saya mau ikut nimbrung juga. Jaminananya adalah uang pensiun alm Bapak. Spontan saya mengiyakan. Seingat saya saat itu nimbrungnya cuman 15 jt. Cucok deh buat beli sepeda motor baru.

Masih Yamaha? Iya. Mio GT Warna Hitam striping biru. Itu tuh diatas penampakannya. Yang ini belinya tunai di Yamaha Berlian Motor, Jl. Solo-Jogja deket ringroad Depok. Dulu sempat bingung mau Mio J atau Mio GT, akhirnya pilihan jatuh pada mio GT soalnya saya suka yang bentuknya kayak mio dulu. Simple dan mriyayeni kalau saya bilang.

Serunya itu bila dibanding dengan mio saya yang dulu, Mio GT ini memang lebih irit banget-banget. Konon katanya sih sudah enggak pakai karburator tapi sudah pakai teknologi injeksi. Tandanya adalah ada simbol YMJET- FI. Ah saya enggak paham banget masalah teknis, tetapi tageline lebih irit 30% itu betul. Saya merasakan perbedaanya dibanding dengan menggunakan Mio CW yang dulu.

Mio GT ini tiap hari hanya saya pakai buat nganter sekolah dan ke pasar. Bila dihitung, jaraknya mungkin sekitar 40-50 km pemakaian hariannya. Kalau diisi bensin full tank kadang sampai seminggu baru ngisi lagi. Lumayan mengemat kantong gitu loh.

Sayang sekali kayaknya Mio GT sudah stop produksi karena sudah tidak muncul di line-up website resminya Yamaha. Padahal menurut saya bagus lho. Yah, namanya juga teknologi, selalu saja berkembang dan semakin canggih. Semua produk memang ada batas populernya tergantikan dengan yang baru dan lebih baik. Lagian konon Yamaha sudah mengeluarkan produk-produk baru yang lebih irit 50%.

Saya jadi kepikiran untuk nambah lagi dalam waktu dekat ini. Yang lebih irit lagi gitu. Tetapi memang nunggu dapet arisan kampung sih. Kebetulan kalau pas nganter sekolah Si Kecil di SD IT Kadirojo, saya sering lihat ada emak-emak pakai Mio baru warna hitam. Sekilas saya lihat namanya Mio M3. Sumpah jadi penasaran sama yang ini deh. Tampilannya keren. Tempo hari iseng-iseng saya buka websitenya Yamaha dan mempelajari apa keunggulannya. Dapetnya ini nih….

mio

Jadi mupeng buanget nih. 50% lebih irit, je. Kalau jadi beli, selisih anggaran bensinya bisa buat nambah lauk pauk nih, menemani tempe dan tahu yang selalu setia setiap hari..he..he..he… Pilihan warnanya juga banyak sekali, trus ada pengaman kunci segala. Hmmm…kalau saya sih suka yang Passionate Black, kalau kamu suka yang mana ?

Paling Cantik dan Fashionable
Sedunia !

Cari Tahu di sini !

Smartphone Idaman 2018

Pin It on Pinterest