preloder
The Philosophers

Menonton film The Philosophers, yang diubah judulnya menjadi After The Dark, membuat saya nampak bodoh sekali. Semakin berusaha menemukan makna bagian per bagian justru menjerumuskan diri dalam ketidakmengertian akut seperti berjalan dalam labirin.

Selama hampir 107 menit sampai munculnya credit title penutup cerita, saya masih tidak mampu menyimpulkan maksud John Huddles (sutradara) yang sebenarnya, selain hanya menikmati keindahan gambar film ramuan khas perfilman Amerika yang mampu menyulap Candi Prambanan, Bromo, Belitung dan Jakarta nampak lebih indah dari aslinya.

The Philosophers yang bergenre Scri-Fi ini harus ditonton tanpa berkedip. Alur cerita bergerak dinamis, Cepat sekali melompat dari setting sebenarnya (in class) dan imaginer (out class). Jangan heran bila menonton film ini harus menggabungkan sendiri alur ceritanya menjadi kesatuan cerita yang utuh.

Sepanjang film, penonton akan diajak berfikir keras menyusun puzle-puzle cerita untuk menjawab pertanyaan “What if you had to die to survive”, sebuah apocalyse yang menjadi latar belakang cerita dimana dunia diambang kehancuran karena radiasi nuklir. Cerita film melibatkan 20 remaja dari berberbagai negara yang belajar di sekolah internasional di Jakarta.

Menjelang kelulusan mereka mendapatkan sejenis eksprerimen test oleh sang guru philosofi, Mr. Zimit (James D’Arcy) yakni upaya survival manusia diujung kehancuran dunia. Secara imaginatif Mr. Zimit dan Departement Pertahanan Republik Indonesia membangun sebuah bunker bawah tanah untuk mempertahankan ras manusia dari kehancuran dunia karena nuklir tersebut.

Sayang sekali bunker tersebut hanya cukup untuk 10 orang. Itu artinya 10 orang lagi harus tertinggal diluar bunker dan rela mati karena radiasi nuklir. Untuk menentukan siapakan yang berhak mendapatkan tiket masuk ke dalam bunker tersebut, 20 pelajar tersebut harus mengambil undian yang menentukan peran masing-masing sesuai dengan ketrampilannya. Selanjutnya masing-masing peran akan diuji melalui 3 kasus pengandaian (What if ). Disinilah inti dari survival tersebut.

Melalui sebuah pengundian, masing-masing pelajar telah mendapatkan peran yakni sebagai Petani organik, Insinyur Sipil, Agen Real Estate, Tukang Kayu, Penyanyi Opera, Manager Keuangan, Seorang Pemain Harpa, Astronot, Dokter Kimia, Tukang Listrik, Ahli Anggur, Bedah Ortopedi, Petugas Kebersihan, Perancang Busana, Pembuat Es Krim, Zoologi, Psikoterapis, Prajurit, Senator dan Pembuat Puisi (penyair).

Eksperimen Pertama – Ketepatan Waktu dan Pilihan
Pada eksperimen pertama ini 20 pelajar dibawa sang guru ke Candi Prambanan. 6 km dari tempat tinggal saya. Terjadilah diskusi tentang siapakah 10 orang yang harus “diselamatkan” ke dalam bunker untuk mempertahankan ras manusia dari kepunahan massal.

Yang jelas, dalam ekperimen pertama tersebut dunia tidak membutuhkan Pembuat Puisi dan 9 orang lainnya termasuk seorang penyanyi Opera yang diperankan oleh Cinta Laura Keihl. Sang Guru akhirnya membunuh 10 orang tersebut terlebih dahulu daripada sekarat merasakan debu nuklir yang bersuhu 1000 derajat celcius. Sang Guru yang berperan sebagai the Joker juga akhirnya “dihukum” menemui kematian karena terlambat masuk ke dalam bunker.

Sayang sekali akses keluar kunci bungker hanya diketahui di Joker (Sang Guru). Akhirnya 10 orang terpilih di dalam bunker harus mati sia-sia karena frustasi dan tidak bisa meneruskan ras manusia dari kepunahan.

Eksperimen Kedua – Hubungan Seks dan Cacat Genetika
Gunung bromo yang menjadi setting eksperimen ke-2 ini. Menyelamat dan membangun kembali kehidupan membutuhkan tingkat kesuburan reproduksi manusia. Sepenting apapun keahlian seseorang yang dimiliknya, akan tetapi kalau bila tidak mempunyai orientasi seks yang normal maka tidak dapat menghasilkan keturunan yang diharapkan.

Pada eksperimen kedua ini penonton akan diajak berfikir secara kristis, mana yang harus diselamatkan bila tuntutannya adalah menjaga kelangsungan hidup ras manusia. Keahlian atau kesehatan dan kesuburan reproduksi manusia. Pilihan yang sulit karena secara genetika, manusia mempunyaai cacat yang tersembunyi. Konflik dan perbedaan pemikiran juga akhirnya membunuh semua.

Eksperimen Ketiga – Ending Yang Hambar
Bangka Belitung menjadi ending dari rangkai eksperimen pemikiran dari The Philosophers. Film ini berakhir dengan ending yang aneh dan tidak biasa. Menurut saya tidak terjadi klimak seperti film-film pada umumnya. Terasa hambar dan tidak dapat disimpulkan. Ketiga experimen pemikiran dalam film ini diakhiri dengan kematian bersama yang menghentikan ras manusia.

Menikmati film ini, penonton akan disodori sebuah ending yang tidak dapat dirumuskan selain hanya merasakan kebanggaan sebagai orang Indonesia karena setting filmnya mengekplorasi keindahan tempat-tempat terbaik di Indonesia. Penonton akan terombang-ambing dalam permainan logika what If dan konflik imaginer.

Sebuah film permainan logika dan eksperimen pemikiran yang tidak menggambarkan sebuah kejadian yang sesungguhnya. Kesimpulan saya adalah,

Film ini sangat cerdas dan hanya bisa dipahami oleh orang yang suka bermain-bermain dengan logika dan suka eksperimen dengan pemikiran.