preloder
pekerja sosial

Apa beda sebuah pekerjaan dan kerja sosial ? Secara umum perbedaanya terletak pada orientasinya. Pekerjaan mempunyai orientasi pada finansial, kehormatan, jabatan dan penghargaan-penghargaan tertentu yang berujung pada pemenuhan kebutuhan hidup (need). Sedangkan kerja sosial biasanya bersifat pengabdian (charity) alias no need to be paid ! Anda boleh berbeda pendapat dengan saya.

Seluruh orang membutuhkan pekerjaan baik pada sebuah institusi atau usaha mandiri. Tetapi, tidak semua orang mau untuk kerja sosial. Kenapa ? Sebagian orang akan bilang, “Come on, it’s wasted time, No money we get !”. Namanya saja kerja sosial maka jangan pernah berharap mengalirnya uang ke kantong kita.

pekerja sosial

Kerja Sosial Dapat Apa ?
Kalau saya jawab surga, sepertinya anda pasti tertawa. Tapi okelah tak mengapa, kalau toh pun iya itu semata-mata urusan Tuhan. Banyak prasyarat bila dikait dengan kata itu, ikhlas dan tidak riya’ dua di antaranya. Pekerjaan sosial itu tidak mendapatkan apa-apa selain kepuasan batin melayani dan menolong orang lain. Membuat hidup ini berharga dan berguna bagi orang lain. Kalau dalam harta kita saja ada hak orang lain di situ, tentu saja hidup kita demkian juga.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa pekerjaan sosial salah satu bentuk sedekah. Tentu saja bila terminologi sedekah diterima secara universal, melintasi batas-batas keyakinan dan agama apapun. Bisa jadi hanya istilah saja yang berbeda tetapi mempunyai maksud yang sama. I really don’t know !

Siapa Pekerja Sosial di Sekitar Kita ?
Beberapa di antaranya ada di sekitar kita yang dapat kita sebut sebagai pekerja sosial. Mereka adalah RT, RW, Pengurus PKK, Pengurus Posyandu dan sejenisnya. Mungkin anda bisa menambahkan beberapa yang tidak saya ketahui. Beberapa yang saya sebutkan tadi telah menyerahkan dirinya untuk melayani orang lain tanpa dibayar dan tanpa balas jasa. Kalau boleh saya katakan, justru merekalah yang patut disebut

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.
Terus terang ada kontradiksi dalam pemikiran saya, kenapa justru Bapak dan Ibu Guru yang mendapat predikat tersebut. Padahal mereka mendapatkan gaji, tunjangan-tunjangan dan uang pensiun ketika memasuki masa purnabhakti. Bahkan kalau terjadi kenaikan gaji secara nasional, dapat menciptakan naiknya harga-harga bumbu dapur dan inflasi.

Saya tidak bermaksud menggugat sebutan pahlawan bagi profesi guru. Atau mencoba mengacak-acak pemikiran anda atas keyakinan itu. Biarlah berlaku seperti adanya. Saya yakin anda bisa memahami, kearah mana pendapat saya ini bermuara. Lha wong saya ini hanya seorang ibu rumah tangga biasa kok. Lalu bisa apa?