preloder
Boob Aid

Kalau di Indonesia lagi seru tentang Jilboobs yakni trend berjilbab tetapi tetap menonjolkan boobs atau payudara, di Jepang malah lebih gila lagi yakni Boobs Aid, aksi ‘pegang payudara‘ untuk Amal.

Acara amal yang disponsori oleh sebuah stasiun swasta ini dimaksudkan untuk mengumpulkan dana yang akan dipergunakan untuk kampanye Anti AIDS. Acara berlangsung selama 24 jam dengan melibatkan 9 aktris film dewasa Jepang.

Untuk bisa merabai boobs 9 aktris ini, pendonor cukup membayar 1.000 Yen ata Rp. 122.000. Dari acara ini penyelenggara konon bisa mengumpulkan dana 4 juta yen (sekitar Rp 488 juta).

Acara Boob aid ini sudah berlangsung sejak 2003. Tebak siapa yang menjadi donaturnya ?

Melecehkan Perempuan
Apapun alasannya, saya berpendapat bahwa acara ini sangat melecehkan harkat dan martabat kaum perempuan. Sayang sekali acara-acara seperti ini ternyata sudah membudaya di Jepang. Bila meminjam istilah salah satu capres, Prabowo, pelecehan martabat perempuan di jepang sepertinya sudah terstruktur, sistematis dan masif (TSM). TV-TV di Jepang berlomba-lomba membuat program game yang sengaja mengekplorasi sensitivitas perempuan dan membangkitkan hasrat bagi lawan jenis yang menontonnya.

Coba anda lihat di youtube dengan keyword Japanese Tv show, Free Television Shows, Crazy Japanese TV Shows, dan lain-lain. Anda akan terhenyak menyaksikan betapa perempuan Jepang ternyata merelakan tubuhnya dijamah orang lain, menjadi bahan tontonan dan permainan yang disaksikan oleh jutaan orang.

Agama dan Budaya
Saya jadi berkesimpulan bahwa di Jepang tidak ada kebudayaan dan agama yang mengajarkan tentang moral dan harga diri perempuan. Atau, bisa jadi itulah sesungguhnya ajaran moral yang diyakini masyarakatnya bahwa seks dan perempuan tidak lebih dari sekedar hiburan.

Sepertinya hanya di Jepang, alat kelamin pria dan wanita justru menjadi simbol-simbol kuil dan dipuja oleh banyak orang. Ritual-ritual seks menjadi hal yang umum. Bahkan ada sejarah aneh tentang seks yang berkembang di Jepang bahwa perawan ketika malam pertama pernikahan adalah sangat memalukan bagi mereka yang menikah di usia lebih dari 20 tahun.

Hal ini berkembang terjadi sejak zaman kerajaan Jepang di masa lampau. Mungkin inilah alasan kenapa banyak perempuan Indonesia yang kehilangan keperawanan oleh tentara Jepang pada masa penjajahan dulu, dijadikan budak pemuas nafsu yang populer dengan sebutan “Geisha”

Perilaku ini sangat aneh menurut saya ditengah-tengah predikat Jepang sebagai negara ras kuning yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan. Siapa yang menyangkal sih kalau Jepang adalah negara dengan kesopanan tinggi. Kebudayaan membungkuk menghormati orang lain salah satu contohnya.
Presepsi Seks

Kenapa di Jepang sedemikian gila? Ada fakta menarik yang didasarkan pada hasil survei Japan Family Planning Association (JFPA) bahwa selain keengganan untuk memiliki anak, orang Jepang ternyata sudah mengalami kebosanan berhubungan seks. Seks dianggap bukan hal yang bermanfaat—apalagi kebutuhan—bagi kebanyakan orang Jepang.

Bila di Indonesia pornografi dan pornoaksi diancam dengan hukuman berat, di Jepang justru sebaliknya. Akibatnya industri pornografi tumbuh subur seperti jamur di musing penghujan. Tak heran kalau Jepang dianggap sebagai negara termesum di dunia. Beberapa Billboard justru malah terang-terangan memajang artis film dewasa yang menjadi idola disana.

Saya jadi mengerti, kenapa permainan seks, acara-acara seks dan ritual-ritual seks di Jepang menjadi membudaya dan tidak tabu lagi.. Duh, kasihan sekali kaum perempuan di Jepang. Sungguh sangat beruntung bagi kita, kaum perempuan yang tinggal di Indonesia ?

Paling Cantik dan Fashionable
Sedunia !

Cari Tahu di sini !

Smartphone Idaman 2018

Pin It on Pinterest