preloder
kematian

الذين اذا اصابتهم مصيبة قالوا انا لله وانا اليه راجعون
“(Yaitu) orang-orang yang apabila mereka ditimpa oleh suatu kesusahan, mereka berkata: Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali.”

Satu lagi sahabatku dipanggil kembali oleh Allah SWT. Tanpa merasakan tua dan tanpa sakit yang berkepanjangan selain ketika ruhnya dicabut dari badan. Mbak Ratna, wanita pekerja keras yang mengabdikan hidupnya untuk keluarga.

Wanita yang ikhlas hidup berdua dengan suaminya tanpa sempat dikarunia seorang anak, berpulang pada Sang Khalik dalam usia yang baru menginjak 40 tahun. Hari ini jasadnya dimakamkan di komplek pemakaman kampung yang berjarak 500 meter dari rumah.

Mbak Ratna seorang yang jago masak. Usaha katering yang dijalankan bersama suami dan 4 orang asisten cukup terkenal. Pelanggannya tidak hanya orang rumahan tetapi juga instansi-instasi. Setiap kali saya punya hajat seperti arisan dan pengajian di rumah selalu menggunakan jasanya.

Wanita mualaf ini sangat rendah hati untuk berbagi ilmu dan bergaul dengan lingkungan. Berteman dan bersahabat dengannya adalah sebuah karunia bagiku. Beberapa hari sebelum kematiannya ini sempat mengajarkan padaku resep membuat masakan sayur pindang daging sapi khas Kudus yang rencana akan saya jadikan bisnis kuliner keluarga.

Satu minggu yang lalu, mbak Ratna sempat menghantarkan jajan saat ibu-ibu sedang latihan angklung di balai RW. Sorotan matanya memang sudah sayu seperti lelah. Hampir semua ibu-ibu mengatakan hal yang sama. Dan ternyata itu pertemuanku yang terakhir dengannya.

“Suk nek aku mati aku ora njaluk opo-opo, aku mung njaluk disholati karo didongakno (Besok kalau saya mati tidak akan membawa apa-apa. Hanya minta untuk di sholatkan dan di doakan).” Kata-kata ini diucapkannya kepada Mbak Mira, salah satu tentangga, 3 hari yang lalu. Seperti telah memberi isyarat akan pergi selamanya.

Menjelang Ashar sebelum malaikat maut menjemputnya, sempat bilang kepada Mas Sulis suaminya yang hendak ke masjid. ” Mas, aku didongakno, yo (Mas saya dido’akan ya).” Memang sudah 2 hari itu mbak Ratna mengeluh sesak nafas. Entah karena masuk angin atau karena memang seperti itu kondisi tubuh menjelang kematian.

Kata-kata terakhir yang diucapkannya ketika ruh dicabut dari badannya adalah Allahu Akbar, Astagfirulloh beberapa kali dan akhirnya tersandar lunglai di bahu salah satu asistennya, Senin, 2 Juni 2014 pk.17.15 WIB. Ketika itu suaminya mengantar pesanan katering kepada pelanggan. Nglimpe, kata orang jawa bilang.

Sungguh kematian yang indah dan khusnul khotimah bagi Mbak Ratna, Insya Allah. Kematian yang diharapkan oleh siapa saja termasuk saya. Selamat Jalan Mbak Ratna. Insya Allah engkau mendapat kemudahan menjawab pertanyaan Munkar dan Nakir di alam barzah. Kebaikan dan keikhlasanmu berbagi ilmu dengan siapa saja akan menjadi teman-teman cahayamu.

Maafkan atas segala khilafku dan aku ikhlas bersahabat denganmu !