preloder
capres

Lebih baik !

Debat capres putaran kedua tadi malam (15/6) jauh lebih baik ketimbang putaran pertama. Kedua Capres baik Jokowi maupun Prabowo, nampaknya telah nonton youtube menyimak kembali hasil debat putaran pertama (9/6) sehingga mampu “mempersiapkan dan menghapal” materi debat lebih matang. Pepatah mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang utama setidaknya masih diingat oleh keduanya.

Yang menarik dari debat putaran kedua ini, KPU mengubah format debat menjadi “One on One”. Sepertinya sengaja mengadu capres tanpa wakilnya, agar pengalaman berbagi jawaban tidak terulang kembali dan rakyat Indonesia dapat melihat kemampuan personal yang sebenarnya dari masing-masing capres. It’s fair enough !

Debat terbagi dalam enam sessi dengan tema “Pembangunan Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial” dimoderatori oleh Prof. Ahmad Erani Yustika dari Universitas Brawijaya Malang. Berbeda dengan format sebelumnya, dalam debat yang memakan waktu 60 menit ini masing-masing capres mendapatkan kesempatan untuk bertanya dan menanggapi satu dengan yang lainnya.

Tentang Pembangunan Ekonomi : Duplikasi Kartu Vs Misi Penyelamatan Aset
Setidaknya debat tadi malam menunjukkan perbedaan visi dari kedua Capres. Konsep pembangunan ekonomi ala Jokowi adalah ekonomi berdikari. Sebuah ekonomi yang dibangun diatas kemandirian SDM yang berkarater.

Jokowi menekankan pada revolusi mental dalam membentuk karakter tersebut yang menitikberatkan pada Skill dan Akhlak. Formulasi pendidikan karakter ini dimulai dari pendidikan setingkat SD hingga SMA dengan prosentasi “skill dan aklak” yang berbeda-beda setiap tingkatannya.

Secara nasional bila Jokowi terpilih maka Indoenesia bersiap untuk menerima kartu Indonesia Sehat dan Indonesia Pintar. Melalui kartu ini Jokowi berharap pogram akan terkontrol dan tersistem dengan baik sehingga mudah dalam kontrol dan managementnya.

Akan tetapi, tidak cukup kreatif menurut saya apa yang di rancang Jokowi ini mengingat kedua kartu adalah duplikasi programnya di Jakarta. Dalam banyak versi berita, konon kedua kartu tersebut sama-sama gagal dalam realisasi dan manfaatnya.

Pertumbuhan ekonomi itu sendiri akan diarahkan pada pemerataan. Oleh sebab itu Jokowi lebih tertarik membangun ekonomi nasional berangkat dari desa ke kota. pembangunan koperasi, UKMKM, Pertanian dan ekonomi Maritim.

Bagaimana dengan Prabowo? Pembangunan ekonomi ala Prabowo adalah ekonomi kerakyatan yang bergerak sama dari desa ke kota. Yang menarik, pembangunan ekonomi kerakyatan ala Prabowo ini didasarkan pada “Misi Penyelamatan Aset Negara” dengan mengatasi kebocoran anggaran yang konon mencari 1200 Triliun (versi KPK, versi Prabowo 1000 Triliun).

Dengan mengatasi kebocoran tersebut, Prabowo bermaksud mendapatkan surplus tunai yang dapat dipakai untuk mensejahterakan rakyat melalui alokasi dana 1 milyar ke setiap desa dalam 1 tahun, kenaikan pendapatan penduduk sampai 5-6 juta per orang per bulan, mendirikan bank-bank petani dan mengelola tabungan haji secara masive.

Sangat disayangkan, bahwa Prabowo tidak menjelaskan garis besar misi ini. Terutama adalah penjelasan tentang sektor mana yang mengalami kebocoran dan strategi-strategi apa untuk menyelamatkannya. Selain itu, program Prabowo ini lebih cenderung ke arah pengandaian dan entah bagaimana cara mencapainya dengan kondisi Indonesia yang sudah sedemikian parah.

Menjawab pertanyaan moderator dalam pendalaman visi dan misi di sessi kedua debat, Prabowo menggarisbawahi bahwa pembangunan ekonomi kerakyatannya adalah dalam rangka melaksanakan amanat 33 UUD 1945. Selain menyelamatkan aset negara, Probowo juga memberikan peluang adanya investasi asing di Indonesia dengan mengubah peran pemerintah sebagai pelopor ketimbang menjadi wasit.
Ada kontradiksi menurut saya. Di satu sisi komitmen prabowo sangat tegas dalam menyelamatkan aset negara dari kekuasaan asing, ini berati Prabowo kudu bersiap menjadi musuh dengara asing. Akan tetapi dilain sisi justru memberikan peluang investasi asing ke Indonesia (Pro Investasi). Entah apa yang dimaksud Prabowo sebenarnya.

Diplomasi Yang Buruk atau Kerendahan Hati ?
Dalam sessi saling bertanya dan menanggapi, pertanyaan Jokowi kepada Prabowo lebih banyak menjebak dengan istilah-istilah singkatan. Jebakan pertama Jokowi adalah pertanyaan tentang DAU (Dana Alokasi Umum) dan DAK (Dana Alokasi Khusus). Istilah ini sangat umum ditingkat birokasi/orang-orang pemerintahan terutama para kepala daerah.

Menurut Prabowo DAU dan DAK dipakai dan dikembalikan sepenuh untuk daerah dan rakyat. Akan tetapi, DAU dan DAK ini akan berjalan dengan baik bila sumber-sumbernya jelas, oleh karena itu mengendalikan kebocoran aset negara menjadi langkah awal dalam realisasi DAU dan DAK.

Akhirnya Prabowo terjebak pada pertanyaan Jokowi yang menggunakan istilah TPID (Team Pemantau dan Pengendalian Inflasi Daerah). Ketidaktahuan Probowo dengan istilah tersebut saya kira sangat wajar bahwa Probowo tidak sekalipun pernah menjabat sebagai kepala daerah yang akrab dengan istilah-istilah tersebut. walaupun sang calon wapres, Hatta Rajasa, merupakan koordinator TPID ini.

Sebenarnya pertanyaan Jokowo tersebut sah-sah saja, akan tetapi sangat aneh bagi saya karena pertanyaan tersebut tidak menujukkan sikap tokoh yang berfikir nasional. Jokowi masih berifikir sempit, daerah dan selalu daerah. Jokowi masih asik dengan mindset sebagai seorang kepala negara daerah ketimbang calon presiden di republik ini. Posisinya akan sama bila Prabowo bertanya kepada Jokowi tentang kaliber peluru yang dipakai oleh M16.

Prabowo akhirnya menjawab bahwa TPID merupakan urusan masing-masing kepala daerah. Sangat diplomatis menurut saya jawaban Prabowo ini mengingat sama sekali dia tidak mengetahui tentang TPID tersebut.

Yang membelalakan mata saya, secara terbuka prabowo mengakui bahwa kali ini dia tidak mengikuti anjuran team penasehatnya sendiri agar selalu mengatakan tidak setuju apapun yang disampaikan oleh Jokowi dalam forum debat. Dalam kenyataannya justru Prabowo menyatakan setuju dan memuji penjelasan Jokowi atas pandangan tentang menumbuhkan ekonomi kreatif.

Sang mantan Jendral rupanya sentimentil. Barangkali teringat pada anak semata mayangnya yang berada di Amerika Serikat dan berprofesi debagai designer. Pujian terhadap Jokowi ini diiringi dengan adegan berpelukan ala teletabies, seperti Poo dan Lala. Entah apa maksud Prabowo yang sebenarnya. Apakah berharap mendapat simpati rakyat dengan menujukkan bahwa dia adalah seorang yang rendah hati dan terbuka dengan ide-ide dan pemikiran orang lain, atau entah karena apa.

Bila saya menganalogikan bahwa debat ini adalah sebuah diplomasi, maka sikap prabowo ini merupakan kelemahan dan kekalahan diplomasi. Ini sangat fatal karena akan berpengaruh pada daya tawar (bargain) di depan publik. Merendahkan diri adalah diplomasi yang buruk. Begitu kurang lebihnya, sekelumit pepatah dalam bahasa politik.

Secara keseluruhan, saya menyimpulkan bahwa debat capres putaran kedua jauh lebih menarik ketimbang putaran pertama. Sudah ada bobot materi untuk menjelaskan Grand Design Indonesia 5 tahun mendatang dari masing-masing capres. Ulasan dan Jawabannya sudah lebih mengarah pada pertanyaan moderator. Mungkin sudah bosan makan kulitnya kacang, sehingga kedua capres ini akhirnya makan isinya kacang.

Perlahan saya sudah sedikit terbuka untuk memilih salah satu dari keduannya dari tidak sama sekali dari keduanya. Ini menjawab keraguan saya seperti yang saya sampaikan dalam posting sebelumnya, beberapa jam setelah debat pertama berakhir minggu lalu.

Paling Cantik dan Fashionable
Sedunia !

Cari Tahu di sini !

Smartphone Idaman 2018

Pin It on Pinterest