Lebaran di BrexitLebaran memang sebuah momentum yang istimewa. Saking istimewanya, bukan hanya masyarakat muslim saja yang merayakannya, masyarakat non muslim pun secara tidak langsung terlibat di dalamnya, mulai dari sama-sama menerima THR hingga melakukan ‘ritual’ mudik untuk bertemu dengan sanak saudara di kampung halaman. Artinya, lebaran menjadi milik siapapun. Lebaran dan mudik menjadi budaya nasional yang tidak dibatasi sekat-sekat agama dan keyakinan.

Setiap orang mempunyai cerita sendiri-sendiri melewati lebaran. Bagi para perantau seperti saya, cerita serunya lebaran selalu berawal dari mudik. Orang bilang, “Jangan ngaku lebaran asik kalau nggak mudik”. Percaya ‘gak percaya, walaupun sekedar kelakar tetapi saya setuju itu. Lebaran memang lebih berkesan karena ada cerita mudik di dalamnya.

Hampir setiap lebaran, saya pasti mudik ke kampung halaman di Kaligangsa Wetan Brebes. Selain karena masih punya orang tua satu-satunya, hitung-hitung ikut mendukung program pemerintah untuk menggunakan dan mencintai ‘produk dalam negeri’. Ya…mudik itu 100% produk dalam negeri non komoditi. Kebayang gak sih…berapa trilyun perputaran uang selama mudik dan lebaran…

Lebaran tahun ini penginnya sih bisa libur lama seperti tahun kemarin, hingga 30 hari. Sayang sekali ada aktifitas ekonomi yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja, demi dapur yang selalu kebul-kebul. Ini penting karena menyangkut “kampung tengah” alias urusan perut yang mutlak. Jadi, kami pun sepakat untuk mudik H-2 saja. Nah, bagaimana lebaran tahun ini, yuk… ikuti keseruan lebaran keluarga kami di Brexit dalam catatan 8 hari.

Jogja-Brebes mestinya bisa ditempuh melalui 3 jalur yakni Jogja-Solo-Semarang-Pekalongan-Brebes, Jogja-Kebumen-Bumiayu-Brebes dan Jogja-Magelang-Kendal-Brebes. Atas beberapa pertimbangan baik menyangkut kondisi jalan, tingkat kemacetan dan juga jarak tempuh, maka kami sepakat memilih jalur ketiga.
Jalur Jogja-Brebes

Perjalanan lumayan panjang dan melelahkan. Jarak tempuhnya mencapai 300 km. Dalam keadaan normal biasanya ditempuh selama 7-8 jam tetapi kali ini bisa sampai 14 Jam. Formasi jalan tidak lagi 2 - 2. Beberapa ruas jalan harus dilalui dengan formasi 1-3 demi saudara-saudara yang berplat nomor B. Karena kadung kangen sama keluarga di Brebes, penginnya pun segera sampai saja. Oleh sebab itu, kami sepakat untuk tidak terlalu sering masuk rest area. Paling istirahat sejenak di masjid sambil menunggu adzan. Begitulah..

Oh ya, dalam perjalanan kami juga melihat beberapa kecelakaan akibat ketidaksabaran dan ketidakkehati-hatian para pengendara. Alhamdulillah pak sopir kami sabar dan legowo, lebih banyak mengalah sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Thank you pak sopir, entar sampai dirumah aku ‘pijit-pijit’ he..he..he.

Satu-satunya kekwatiran kami saat itu adalah ketika memasuki Kecamatan Kramat Tegal. Selain macet puluhan kilo, aduh…, indikator bensin hampir menyentuh level E alias mau habis. Saya malah yang panik. Kebayang kalau bensin habis di tengah kemacetan yang begitu parah.

Sebagian besar SPBU yang kami lewati memasang papan pengumumunan yang bunyinya “Premium Habis !!!”. Bagi SPBU yang masih punya stock, terjadi antrian yang sangat panjang. Tak heran bila bensin eceran di pinggir jalan harganya melonjak sampai Rp. 25.000 - Rp 30.000 per liter. Muaahallll buanget……!

Syukur alhamdulillah pak sopir cerdik, langsung mengambil Andromax R-nya yang sudah berteknologi 4G LTE lalu membuka aplikasi Pertamina Go. Sekian detik, langsung ketemu lokasi SPBU alternatif terdekat yang lokasi sedikit masuk ke area perkampungan penduduk. Yesss… ketemu di daerah jalan Pala Raya. …Uh….hilang sudah kekwatiran !

Nah tuh, bagi temen-teman yang gadgetnya belum 4G, segera di #4GinAja. Jangan sampai mati gaya. Kami merasakan betul dahsyatnya teknologi 4G LTE yang mampu memberikan akses internet cepat. Oh ya, coba klik disini deh, #SmartfrenCommunity. Banyak informasi berharga yang bisa kalian dapatkan tentang teknologi 4G-nya Smartfren.

Pukul 20.13 WIB, akhirnya sampai di rumah Brebes. Terbayar sudah kelelahan dengan kebahagiaan setelah hampir 14 jam berjibaku dengan keadaan jalanan yang sesak. Apalagi ketika ketemu dengan ibu yang semakin menua. Salim, peluk, cium…dan nangiiiiiiiiiiiiiiiissssssssssssss!

Kebetulan rumah di Brebes berada di area Brexit (Brebes Exit Toll) jadi bisa kebayang kan macetnya kayak apa. Jangankan pemudik dari Jakarta, warga yang ada disekitar Brexit juga terjebak kemacetan parah. Mau keluar menerobos jalan raya saja susahnya bukan main. Lha wong dari alun-alun Brebes ke rumah yang biasanya hanya 15 menit bisa sampai 2-3 jam lho. Sepertinya tahun ini kemacetan mudik memang lebih parah dari tahun lalu.

Akhirnya kami mengisi libur lebaran tanpa plesir kemana-mana tetapi tetap saja asik dengan aktifitas ringan seperti moci bareng di teras rumah, nonton film-film horor, main game dan lain sebagainya. Yang paling seru adalah putar-putar komplek perumahan mencari venue yang bagus untuk foto narsis. Foto-foto tersebut kemudian dibikin gambar seru-seruan untuk DP BBM. Ini nih beberapa hasilnya…

Brexit Boys

Nah, ini yang yang gak boleh dilewatkan kecuali kalau lagi “dapet”, yakni Sholat Ied. Ini adalah puncak dari ibadah puasa kita sebulan penuh. Kayaknya ‘gak sempurna ibadah kita kalau enggak dijalanin, ya kan? Lapangan tempat dilaksanakan sholat ied lumayan deket sih, karena masih dikomplek perumnas. Cukup jalan kaki bareng-bareng 5 menit,.nyampai deh…

Sholat IdSepulang dari sholat ied, sudah menjadi tradisi kami kudu sungkem. Sebagai seorang istri maka sungkemnya kepada suami tercinta dulu ya. Setelah itu, baru sungkem kepada ibu yang paling kusayang-sayang.

Oh my god…segmen ini selalu haru biru dan penuh dengan derai air mata. Mendadak kangen juga sama ayah yang sudah duluan kembali keharibaan Allah 8 tahun lalu..huuu..huuuu…nangis lagi. Aduh…

“Alloohummaghfirlii waliwaalidayya war hamhumaa kama rabbayaanii shagiiraa”.

Sayang sekali momen sungkeman tidak terdokumentasi foto karena kamera sudah nangkring di tripod dengan settingan video recod. Si empunya ikut ngantri sungkeman sih…he..he.he…

Upss..ada trouble sedikit nih. Terjadi kesalahan setting resolusi videonya, maka otomatis mode record hanya berjalan sekian detik kemudian terhenti sendiri. Makanya momen yang terekam hanya sepenggal-sepenggal. 🙂

Tapi lumayanlah masih ada dokumen videonya. Kelak video ini sangat berarti bagi anak cucu…”ohh… itu loh eyang yuni ketika masih muda…”..he..he..he… :). Ini dia videonya….. 🙂

Saat sungkeman, ibu menasehati agar tidak meninggalkan sholat dalam keadaan apapun dan bagaimanapun. Ibu juga mendoakan semoga saya dan keluarga dikuatkan iman dan dimurahkan rejekinya….duh ibu…terima kasih…matur nuwun…inilah yang selalu saya harapkan, doa dari ibu yang saya dengar langsung ditelingaku ! Aamiin, Insya Allah mendengar dan mengabulkannya…nangis lagi…nangis lagi….

Setelah ritual sungkeman selesai, kami bergegas ke jalan di depan rumah. Tradisi di Kaligangsa Brebes bahwa acara maaf-memaafkan dengan tetangga dilakukan di jalanan, jadi tidak membutuhkan suguhan apapun untuk tamu. *Ngirit tenaga dan biaya, ups..*

Melanjutkan tradisi keluarga saat lebaran adalah Halal Bi Halal Keluarga Besar Bani Yoesaid (http://baniyoesaid.blogspot.co.id). Muhammad Yoesaid adalah Ayah dari Ibu, eyang kakung kalau saya menyebutnya.

Ibu adalah anak ketiga dari 7 bersaudara. Dari 7 bersaudara tersebut, empat diantara sudah menghadap Allah. Yang masih adalah Pak De Cecep ( Tegal) Yoesriatin ( Ibu / Brebes ) dan Yoesriatun (Yogyakarta). Dari tahun ke tahun pelaksanaanya selalu dilaksanakan H+2 setelah lebaran. Tahun ini sebagai tuan rumah adalah keluarga besar Pak De Cecep (Muhammad Yoesef Syahrudin) di Tegal. Acara selalu seru. Selain acara hikmah lebaran dan arisan keluarga ada juga lomba-lomba khusus buat cucu-cucu diantara lomba hafalan juzz amma’, lomba cantel spon, lomba memasukan pensil dalam botol serta quiz-quiz islami.

Gembira yang luar biasa bisa bertemu dengan saudara-saudara dari keluarga ibu. tetapi saya juga merasa semakin tua saja melihat keponakan-keponakan. Kayaknya baru kemarin-kemarin melihat mereka pakai seragam SD, sekarang sudah ada yang SMA bahkan sudah ada yang mengambil program doktoral di UGM dan sebentar lagi magang di Jepang. Alhamdulillah…

Selain keluarga ibu, halal bi halal keluarga juga diadakan oleh keluarga bapak. Bahkan sudah terbentuk organisasinya yang bernama Paguyuban Keluarga Bani Iskak Mardana (http://baniiskakmardana.blogspot.co.id).

Keluarga bani Iskak Mardana jumlahnya lebih banyak dan tersebar di seluruh Indonesia. Kalau hadir semua bisa mencapai 135 orang. Sayang sekali lebaran tahun ini banyak yang berhalangan untuk hadir. Walaupun demikian tidak mengurangi keseruan acara. Yang menjadi tuan rumah kali ini adalah keluarga kami di Brebes.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Halal bi Halal keluarga Bani Iskak Mardana tahun ini ketambahan acara lomba untuk anak-anak seperti memasukan paku ke dalam botol, melempar bola ke keranjang, serta tebak berhadiah.

Acara mengalir penuh tawa dipandu MC yang kocak. Ketika sessi hiburan solo organ, masing-masing keluarga mengirimkan wakilnya untuk tampil diatas panggung. Acara Halal bi Halal diakhiri dengan pembacaan ikrar syawalan dan bersalaman saling memaafkan. Suasana menjadi haru biru dan hujan tangis pun terjadi.

Waktunya packing dan bersiap balik ke Jogja. Uh….seperti ada rasa kehilangan yang amat sangat. Seminggu berlebaran di kampung halaman sungguh berkesan. Saya semakin menyakini bahwa kebersamaan dengan keluarga memang mahal. Susah dicari bandingannya. 🙁

Balik ke Jogja, kami memilih perjalanan malam. Pukul 19.00 WIB berangkat dengan mengambil jalur yang sama seperti saat mudik. Walaupun bersimpangan dengan saudara-sadara yang balik ke Jakarta (Plat B) namun perjalanan tidak mengalami hambatan. Lancar-lancar saja tidak ada kemacetan yang berarti.

Akhirnya Jam 04.00 pagi sampai di Jogja dan bersiap untuk melanjutkan hidup demi kehidupan yang lebih baik. Semoga Allah memampukan kami untuk mengulang kebersamaan seperti ini tahun depan. Amiin.

Allohumma thowwil umuurona, wa shohhih ajsadana, wa nawwir quluubana, wa sabbit imanana wa ahsin a’maalana, wa wassi’ arzaqona, wa ilal khoiri qorribna wa ‘ani syarri ab’idna, waqdi hawa-ijana fiddini waddunya wal akhirah innaka ‘ala kulli syai-in qodir.

Ya Allah! Panjangkanlah umur kami, sehatkanlah jasad kami, terangilah hati kami, tetapkanlah iman kami, baikkanlah amalan kami, luaskanlah rezeki kami, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan, kabulkanlah segala kebutuhan kami dalam pada agama, dunia, dan akhirat. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

 

773total visits,1visits today

Free WordPress Themes