preloder

TAK SEKEDAR JADI "TUKANG OJEK", INI CARA SAYA TERLIBAT DALAM PENDIDIKAN ANAK DI ERA KEKINIAN

Semenjak anak perempuan saya, Ayunda, masuk sekolah dasar, saya mempunyai aktifitas lain yang mengasikkan dan “membuat hidup lebih hidup”.

Sedari kelas 1, kegiatan-kegiatan sekolah yang melibatkan orang tua (keluarga) wali murid sudah sering dilakukan. Bahkan sampai saat ini ketika Ayunda sudah duduk di kelas 5.

Setidaknya sebulan sekali saya ambil bagian dalam kegiatan POMG popup (Pertemuan Orang Tua Murid dan Guru).

POMG adalah sebuah forum silaturahmi antara orang tua dan guru. Dalam forum ini saya dan orang tua murid lainnya mendapat informasi terkait perkembangan proses belajar anak dari guru wali kelas secara langsung.

Tak hanya itu, dalam forum POMG ini pula orang tua siswa dapat mengambil manfaat dari diskusi-diskusi parenting dengan tema yang variatif.

KEGIATAN BERSAMA ORANG TUA DAN GURU SDIT UI (POMG)

Jl. Candi Sambisari, Purwomartani, Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55571, Indonesia
Telepon: +62 274 497573

Menariknya, kegiatan POMG yang dilaksanakan pada hari minggu pagi ini biasanya didahului dengan kegiatan pengajian bersama yang diikuti orang tua, guru hingga masyarakat sekitar.

Bagi saya, POMG ini penting. Forum kebersamaan orang tua dan guru ini menjadi salah satu bentuk pelibatan keluarga dalam penyelenggaran pendidikan di sekolah.

Tentu saja POMG bukan satu-satunya. Masih ada banyak aktifitas lainnya yang melibatkan orang tua dan sekolah Ayunda baik formal maupun non-formal.

Sebut saja seperti group diskusi Whatsapp guru dan orang tua yang merupakan “kepanjangan tangan” dari POMG atau event aktifitas baik yang terjadwal maupun temporer..

Pertanyaannya, kenapa keterlibatan orang tua dan keluarga  sangat penting dalam pendidikan anak ?

Era kekinian, Menyerahkan Pendidikan Anak
Hanya Kepada Sekolah, Tidaklah Cukup.

Ssebagai orang tua, saya pun menginginkan Ayunda tumbuh menjadi anak yang mempunyai mentalitas dan karakter yang baik, serta berprestasi dalam pendidikannya.

Namun, saya juga memahami bahwa menyerahkan tanggung jawab tersebut hanya kepada sekolah tidaklah cukup.

Tantangan pendidikan semakin besar seiring dengan kemajuan jaman. Anak tidak lagi bermain dengan tali dan kelereng. Di sisi lain, tak mungkin pula saya “menghalang-halangi” anak mengenal teknologi.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yang dikenal sebagai ‘gerbangnya ilmu’ pernah berkata, “Didiklah anakmu sesuai dengan jamannya, karena mereka hidup bukan di jamanmu.”

Maka, dalam banyak alasan, saya dan keluarga memang mesti ambil porsi besar dalam proses pendidikan anak, selain guru di sekolah.

Sebenarnya ini keterlibatan keluarga dalam pendidikan anak bukan hal baru. Puluhan tahun lalu seorang pemikir visioner seperti Ki Hadjar Dewantoro telah mengungkapkan gagasan dan pemikiran tentang pendidikan yang ideal bagi anak, dengan melibatkan entitas keluarga dan masyarakat.

Ki Hadjar Dewantoro, yang merupakan pelopor pendidikan pribumi di jaman penjajahan dan pendiri Perguruan Taman Siswa (1922), mengatakan bahwa pendidikan anak membutuhkan tiga tempat pergaulan yang meliputi alam keluarga, alam perguruan (sekolah) dan alam pergerakan pemuda (masyarakat/lingkungan).

Dengan kata lain, pemikiran beliau ini dapat dipahami bahwa pendidikan anak itu membutuhkan ekosistem yang kondusif dan sinergitas kemitraan antara sekolah, keluarga dan masyarakat.

Dalam perkembangan selanjutnya, gagasan Ki Hadjar Dewantoro tersebut mendasari munculnya “Patrap Triloka”. Apa itu ?

Yakni nilai-nilai adiluhung yang dipakai sebagai pedoman dalam dunia pendidikan di Indonesia hingga saat ini.

Kita pasti mengenal dengan apa yang disebut dengan ing ngarsa sung tulada,  ing madya mangun karsa dan tut wuri handayani.

Sebenarnya, pemikiran Ki Hadjar Dewantoro ini juga yang menginspirasi saya dan keluarga kenapa mesti terlibat dalam proses pendidikan dan pembelajaran anak di sekolah.

{

…bahwa pendidikan anak itu membutuhkan ekosistem yang kondusif dan sinergitas kemitraan antara sekolah, keluarga dan masyarakat.

Alasan Kenapa Saya Mesti Terlibat Dalam Kegiatan Pendidikan Ayunda 

icon1

TAHU PROGRAM SEKOLAH

Terlibat dalam pendidikan dan kegiatan Ayunda di sekolah, saya bisa mengetahui program-progam sekolahnya

Icon2

DAPAT MENYELARASKAN

Selanjutnya, dengan mengetahui program-program sekolah tersebut, saya bisa menyelaraskan dengan kegiatan Ayunda di rumah

Icon2

SUMBANG PEMIKIRAN

Sebagai bentuk dukungan, memungkin saya juga bisa memberikan ide dan pemikiran yang produktif bagi sekolah dan Ayunda

Icon2

KONSELING

Dengan terlibat dalam kegiatan sekolah, saya juga bisa mengetahui perkembangan & permasalahan yang dihadapi anak sejak dini dan mengkonsultasikan dengan guru untuk mendapatkan solusi.

Keterlibatan Keluarga dalam Pendidikan Anak

ALASAN KENAPA SAYA MESTI TERLIBAT
DALAM PENDIDIKAN AYUNDA DI SEKOLAH

TAHU PROGRAM SEKOLAH
Terlibat dalam pendidikan dan kegiatan Ayunda di sekolah, saya bisa mengetahui program-progam sekolahnya

DAPAT MENYELARASKAN
Selanjutnya, dengan mengetahui program-program sekolah tersebut, saya bisa menyelaraskan dengan kegiatan Ayunda di rumah

SUMBANG PEMIKIRAN
Sebagai bentuk dukungan, memungkin saya juga bisa memberikan ide dan pemikiran yang produktif bagi sekolah

KONSELING
Dengan terlibat dalam kegiatan sekolah, saya juga bisa mengetahui perkembangan & permasalahan yang dihadapi anak sejak dini dan mengkonsultasikan dengan guru untuk mendapatkan solusi.

“Didalam hidupnya anak-anak adalah tiga tempat pergaulan yang menjadi pusat pendidikan yang amat penting baginya, yaitu alam keluarga, alam perguruan dan alam pergerakan pemuda (masyarakat)”.

-Ki Hadjar Dewantoro, Wasita, th I no 4 – Juni 1935-

Ki Hadjar Dewantoro

Sinergitas Keluarga dan Sekolah
Adalah Format Terbaik Pendidikan di Era Kekinian

Walaupun dunia telah berubah wajah menuju kehidupan yang lebih teknologis, namun hal ini tidak serta mampu mengganti peran serta keluarga dalam pendidikan anak.

Justru malah sebaliknya. Keluarga memiliki peran startegis dan dibutuhkan dalam penyelenggaraan pendidikan dalam rangka mengurangi dampak negatif teknologi di era gadget seperti saat ini, itu salah satunya.

Beruntung, bahwa selaras dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantoro, pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pun menegaskan kembali pentingnya peran serta keluarga dalam pendidikan anak.

Adalah Permendikbud popup No. 30 Tahun 2017 yang diundangkan pada tanggal 3 Oktober 2017 menjadi dasar pijakan tentang Pelibatan Keluarga dalam Penyelenggaraan Pendidikan.

Mencermati Permendikbud ini, sudah sangat jelas menurut saya bahwa pelibatan keluarga dalam pendidikan anak dimaksudkan sebagai upaya meningkatkan kepedulian dan tanggung jawab serta sinergitas antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan.

Lebih dari itu juga diharapkan mampu mendorong penguatan pendidikan karakter anak serta meningkatkan kepedulian keluarga terhadap pendidikan anak serta mewujudkan lingkungan satuan pendidikan yang aman, nyaman, dan menyenangkan.

PERMENDIKBUD No. 30 TAHUN 2017

Pertanyaannya, lalu bagaimana format sinergitas keluarga dengan sekolah ?

Kalau menelaah artikel yang berjudul Tiga R untuk Kemitraan Sekolah dengan Orangtua” dalam laman #sahabatkeluarga, sinergitas didasarkan pada semangat kesamaan hak, kesejajaran dan gotong royong yang didasarkan pada nilai-nilai Respect (Rasa hormat dan saling menghargai), Responsibility (Tanggung jawab) dan Relationship (Hubungan yang bermakna dan berkualitas).

Sinergitas ini selaras dengan bunyi pasal 3 dalam Permendikbud No 30 Tahun 2017, plus dengan mempertimbangkan kebutuhan dan aspirasi anak didik.

{

Walaupun dunia telah berubah wajah menuju kehidupan yang lebih teknologis, namun hal ini tidak serta merta mampu mengganti peran keluarga dalam pendidikan anak.

Tak Hanya Sekedar Menjadi “Tukang ojek” Anak
Ke Sekolah.

Keterlibatan Saya, Tak Hanya Sekedar Menjadi “Tukang Ojek” Ke Sekolah

Saya sadar bahwa tantangan Ayunda di masa depan tidaklah mudah seiring dengan semakin majunya jaman.

Oleh sebab itu tidak mungkin keterlibatan saya dan keluarga dalam pendidikan Ayunda hanya menjadi “Tukang Ojek” setiap hari, akan tetapi mesti melakukan hal-hal produktif lain untuk mendukungnya.  

Aktif menjalin komunikasi dengan guru melalui forum POMG dalam rangka menciptakan kondisi belajar yang kondusif di sekolah adalah salah satunya.

Bila di rumah, saya dan keluarga sepakat menerapkan “pola pengasuhan  positif” pada Ayunda dengan beberapa hal sebagai berikut :

LINGKUNGAN BELAJAR KONDUSIF

Menciptakan situasi lingkungan belajar di rumah yang kondusif dan menyenangkan yang akan mendorong budaya dan prestasi Ayunda

w

KOMUNIKASI HANGAT

Menjalin interaksi dan komunikasi yang hangat dan penuh dengan kasih sayang. Ini penting agar Ayunda tidak menjadi pribadi yang tertutup 

MEMOTIVASI

Selalu memberikan nasehat, motivasi serta menanamkan kepercayaan diri dalam segala hal dan segala kondisi

MENDUKUNG KEGIATAN EKSTRAKURIKULER

Mendukung dan memfasilitas kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minat Ayunda

Harapan – Harapan

Apa harapan saya dan keluarga ? Tentu saja keluarga mempunyai harapan untuk itu semua. Ini juga bisa dianggap sebagai target walaupun tidak bisa dihitung secara matematis.

Harapan ini menjadi gambaran sejauh mana kebermanfaatan atas dukungan dan keterlibatan keluarga pada pendidikan dan sikap hidup Ayunda.

Harapan-harapan ini juga menjadi parameter bagi keluarga untuk mengevaluasi kekurangan-kekurangan dalam memberikan support dan dukungan kepadanya.

Apa harapan keluarga, berikut ini diantaranya,

Z

Perubahan Sikap dan Mental

Terjadi perubahan sikap pada diri ayunda. Ayunda semakin memiliki mental yang tangguh, lebih displin dan mandiri. Ayunda juga mampu lakukan sendiri hal-hal yang bisa dilakukan seperti mengerjakan tugas-tugas sekolah dengan baik, murojaah Al-Quran, dsb walaupun tetap dalam pengawasan keluarga.

Z

Semakin Beriman & Bertaqwa

Ayunda semakin beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, melaksanakan kewajiban sholat 5 waktu tepat waktu, dan selalu menghormati orangtua, menyaynyi saudara dan teman-teman

Z

Berprestasi Secara Akademik maupun non-Akademik

Keterlibatan keluarga mampu mendukung Ayunda meraih prestasi baik secara akademik disekolah maupun non akademik melalui kegiatan ekstrakurikuler (hobby dan minat).

Pendidikan Anak

Terjadi perubahan sikap pada diri ayunda. Ayunda semakin memiliki mental yang tangguh, lebih displin dan mandiri. Ayunda juga mampu lakukan sendiri hal-hal yang bisa dilakukan seperti mengerjakan tugas-tugas sekolah dengan baik, murojaah Al-Quran, dsb walaupun tetap dalam pengawasan keluarga.

Perubahan Sikap dan Mental

Semakin Beriman & Bertaqwa

Ayunda semakin beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, melaksanakan kewajiban sholat 5 waktu tepat waktu, dan selalu menghormati orangtua, menyayangi saudara dan teman-teman

Berprestasi Secara Akademik maupun non-Akademik

Keterlibatan keluarga mampu mendukung Ayunda meraih prestasi baik secara akademik disekolah maupun non akademik melalui kegiatan ekstrakurikuler (hobby dan minat).

Akhir Tulisan

Sebagai akhir tulisan pendek ini, saya hanya menegaskan bahwa perubahan dunia telah meyebabkan munculnya berbagai kemungkinan yang tak tertebak. Tantangan pendidikan pun tidak lagi mudah.

Rasanya tidak cukup kalau masalah pendidikan anak hanya diserakan kepada sekolah semata. Orang tua, keluargadan masyarakat harus menjalin sinergitas dalam penyelenggaraan pendidikan guna mencapai tujuan pendidikan nasional.

Cara paling sederhana, keterlibatan keluarga dalam pendidikan anak bisa diawali dengan mengikuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan sekolah seperti pertemuan orang tua murid dan guru, kelas parenting, pentas seni dan sebagainya.

Tentang pelibatan keluarga dalam pendidikan di era kekinian ini, pemerintah pun sudah mengeluarkan pijakan hukum yakni Permendikbud No. 30 Tahun 2017.

Orang tua perlu membaca permendikbud ini sebagai guidance dalam mengambil peran aktif bersama sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan.

Akhirnya, terima kasih telah membaca artikel ini, semoga bermanfaat untuk Indonesia yang lebih baik.

#orangtuahebatorangtuaterlibat #sahabatkeluarga

Tonton juga video menarik berikut ini.

paper torn

Jengyuni.com adalah personal website yang dibangun dari “ketidaktahuan” dan “keterlambatan” memasuki dunia digital. Di saat orang-orang sudah membuat startup yang menghasilan dollar bertumpuk-tumpuk,
jengyuni masih asik soscmed-an dan malah hanya membaca keberhasilan orang lain di portal-portal berita
melalui layar smartphone yang besarnya tak lebih dari 5 inc.