0%
Bersabar ya. Jengyuni lagi nyiapin teh, kopi, dan kacang rebus untukmu.

Jangan Takut, Vaksin Difteri Halal

Kasus difteri yang sempat merebak membuat pembicaraan soal vaksin penyakit tersebut ramai. Jangan takut, vaksin difteri halal.

Beberapa tahun lalu, wabah difteri kembali merebak di Indonesia. Kejadian ini pun membuat pembicaraan soal vaksin DPT (difteri, pertusis, dan tetanus) kembali mencuat, antara yang pro dan kontra. Sebenarnya, jangan takut karena vaksin difteri halal.

Terkait vaksin difteri, masih banyak orang tua yang enggan membawa anaknya untuk mendapatkan jenis imunisasi itu karena menganggap hal tersebut haram. Ya, latar belakang yang mendasari hal ini adalah kepercayaan dan agama terkait kehalalan dari vaksin difteri.

Pada 2014, ada Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri di Sumatera Barat dan Aceh. Kejadian ini mengakibatkan kematian pada 2 orang anak yang tidak mendapat imunisasi sama sekali.

Sementara, puluhan pasien juga dirawat dengan diagnosa difteri. Dikutip dari pernyataan Ikatan Dokter Anak Indonesia, hal ini tidak lepas dari isu negatif yang disebarkan oleh golongan anti-vaksin melalui media mana pun.

Isu utamanya adalah banyak orang tua yang tidak mau memberikan anak vaksin difteri karena menggunakan enzim dari babi. Mengutip pernyataan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), enzim babi yang digunakan sebagai katalisator dalam vaksin hanya sebagian kecil dari semua jenis vaksin yang ada.

Vaksin difteri halal

Menurut dr. Melyarna Putri dari KlikDokter, enzim dari babi berguna untuk memecah protein menjadi asam amino dan peptida untuk digunakan sebagai bahan makanan kuman. Setelah kuman tersebut dibiakkan, dilakukan proses fermentasi.

Kemudian, hanya diambil sebagian dari dinding sel kuman tersebut. Nah, dinding sel kuman tersebut diambil dan digunakan sebagai antigen untuk bahan pembentuk vaksin.

Tak sampai di situ saja, mengutip dari IDAI, selanjutnya dilakukan proses pengenceran yang mencapai 67,5 miliar kali sampai akhirnya terbentuklah produk vaksin yang dapat digunakan. Pada hasil akhirnya, tidak terdapat sama sekali bahan yang mengandung enzim babi.

Antigen vaksin ini pun yang berasal dari dinding sel kuman tidak sama sekali bersinggungan dengan enzim babi, baik secara langsung maupun tidak.

Mengutip pernyataan IDAI, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah mengeluarkan fatwa terhadap vaksin meningitis dan polio yang proses pembuatannya melibatkan katalisator enzim babi. Pada intinya, kaidah yang digunakan adalah istihalah dan istihlak.

Istihalah adalah apabila terjadi perubahan zat bentuk awal dan akhir yang sama sekali berbeda. Sementara, istihlak adalah hukum mengenai terjadinya proses pengenceran luar biasa membuat unsur najis bisa terkalahkan unsur halal. Itu karena lebih banyak jumlah zat yang halal dibandingkan yang najis. Dengan demikian, dapat disimpulkan kehalalan dari vaksin.

Jadi, Anda jangan takut membawa anak Anda untuk mendapatkan vaksin difteri. Daripada anak Anda menjadi korban, vaksin difteri yang sudah dinyatakan halal oleh MUI adalah pencegah terbaik penyakit ini.

image – unsplash.com
Spread the love