preloder
Macau

Seorang teman mengajak mengikuti kontes ngeblog Why Macau yang diselenggarakan media online terbesar di republik ini, viva.co.id. Semula saya enggan karena saya pikir, ah apa yang mau diulas dari kota para gambler terbesar kedua setelah Tusk Rio Casino Resort, Klerksdorp Afrika Selatan ini ?

Image sebagai kota judi, kota para gangster yang penuh dengan kekerasan, adu gelut dan tembak menembak telah lekat dalam pikiranku. Adalah Andy Lau Cs dalam film ‘Casino Tycoon’ yang telah meracuniku. Terakhir kali aku bermaksud minta pertanggungjawaban-nya, email saya hanya di jawab dengan kata So Sorry, girl. It’s Just A Movie ! – Hem….Please Deh – Just Joke !

Cerita tentang Makau, Macau atau Macao tidak sekedar tentang judi, tidak sekedar tentang Casino Ponte 16 dengan 320 mesin games dan 150 meja poker yang dibangun di pelabuhan Inner Macau seluas 270.000 m2.

Macau juga tidak hanya cerita tentang The Venetian Macao yang menjadi landmark penyuka permainan pertaruhan keberuntungan di seluruh daratan Asia dengan 3000 mesin games dan 870 mesin poker, dibangun di lepas pantai tanah reklamasi seluas 546.000 meter persegi, lengkap dengan bar, hotel dan restauran super mewah.

Memang tidak dipungkiri bahwa bisnis judi menjadi penyumbang 50% GDP (gross domestic product) per kapita dan 70% pendapatan negara. Pendapatan dari bisnis ini mencapai US$ 45 miliar atau Rp 450 triliun dan diprediksikan semakin naik dari tahun ke tahun seiring dengan bertambahnya kunjungan wisata ke Macao. Nah, dengan capaian ini Macao telah menyalip Las Vegas (Amerika) yang sudah duluan ada serta menjadi ‘negara terkaya’ ke-4 di dunia setelah Qatar.

Selain bisnis judi, Kota yang luasnya hanya 29,5 km2 dengan penduduk 610.000 Jiwa ini juga sangat terkenal dengan industri kreatif dan pariwisata. Bila dibandingkan dengan negara kita yang hanya mendapat kunjungan wisatawan 8, 3 juta pada tahun 2013, kunjungan wisatawan ke Macau 3 kali lipatnya yakni menembus angka 26 juta pengunjung.

Macau berkembang dengan cepat setelah mendapat status Special Administrative Region / Região Administrativa Especial de Macau dari RRC, 15 tahun lalu. Dengan status status ini berarti Macao sama seperti Hongkong yang menerapkan sistem Satu Negara Dua Sistem.

macau

‘Ou Mun’ atau Gerbang Perdagangan 

Macau mempunyai sejarah panjang serta menjadi salah satu kota tua di China. Sebelum dikenal dengan nama Makau, Macau atau Macao, dulu dikenal dengan sebutan ‘Ou Mun’ dalam bahasa setempat yang berarti juga “Gerbang Perdagangan”. Secara historis Macau telah dihuni sekitar 4.000 tahun SM meskipun tidak diketahui dengan pasti identitas komunitas pemukim yang paling awal. Banyak literatur sejarah yang menjelaskan bahwa para pelaut Fuji dan petani-petani Guangdong yang mendiami pertama kali.

Predikat sebagai ‘gerbang perdagangan’, karena dimasa lampau Macao dimanfaatkan sebagai Site Point atau pemberhentian para pedagang dari berbagai wilayah dunia seperti Jepang, India dan Eropa pada abad ke-2, tepatnya pada saat kekuasaan Dinasty Qin. Setelah menjadi persimpangan perdagangan inilah akhinya Macao menjadi tempat bertemunya kebudayaan kebudayaan timur dan Barat. 

Asimilasi Budaya Timur dan Barat

Secara geografis, Macau hanyalah kota kecil yang terbagi menjadi empat bagian yakni Macau Peninsula, Taipa, Cotai, dan Coloaneini. Walaupun demikian kota ini mempunyai budaya yang sangat unik dibanding kota-kota lain di China pada umumnya karena telah terjadi asimilasi dan akulturasi kebudayaan Timur dan Barat – “East Meets West”. Keunikan ini merupakan konsekwensi logis atas peranan Macao sebagai pintu gerbang perdagangan dunia 500 tahun lalu.

Adalah para pelaut Fuji dan Petani Guangdong yang mewakili budaya Timur dan penjajah Portugis mewakili budaya Barat-Eropa. Kuatnya pengaruh Eropa menjadikan Macao juga disebut sebagai “Little Europe in China“. Banyak kebiasaan masyarakat yang menunjukkan hidup damainya dua budaya ini di masa lalu. Hingga saat ini pun penduduk Macao yang 90% beretnis Tionghoa masih menggunakan bahasa Portugis dan Inggris sebagai bahasa komunikasi sehari-hari selain berbahasa Canton dan dialek Tionghoa seperti yang dipakai di Hong Kong.

Selain itu, pengaruh Eropa dapat dijumpai melalui bangunan-bangunan kuno yang banyak ditemui disini. Bangunan tersebut terletak dipusat sejarah Macao yang disebut “Kota Tua”. Di kota inilah terdapat 8 alun-alun yang terkenal yakni Barra Square, Lilau Square, St Augustine’s Square, Senado Square, Cathedral Square, St Dominic’s Square, Company of Jesus Square dan Comoes Square. Setidaknya tidak kurang dari 30 bangunan di sini yang ditetapkan oleh The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai Situs Warisan Dunia.

Beberapa bagunan bergaya eropa dan menyimpan sejarah masa lampau adalah Kuil A-Ma, Barak Moor, Mandarin’s House, Gereja St Lawrence, Gereja dan Seminari St Joseph, Teater Dom Pedro V, Perpustakaan Sir Robert Ho Tung dan Gereja St Augustine. Gedung ‘Leal Senado’, Kuil Sam Kai Vui Kun, Holy House of Mercy, Katedral, Mansion Lou Kau, Gereja St Dominic, Ruins of St Paul’s, Kuil Na Tcha, sebagian dari tembok Kota Lama, Benteng Gunung, Gereja St Anthony, Casa Garden, Pemakaman Protestan, dan Benteng Guia, termasuk Kapel Guia dan mercusuar.

The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO0) menetapkan secara kolektif tak kurang dari 30 bangunan di pusat sejarah Macau sebagai Situs Warisan Dunia.

 

 Menengok Masjid Empat Bahasa

Selain bangunan-bangunan yang mempunyai nilai sejarah tinggi, saya sangat tertarik atas komunitas Muslim di Macao yang ters berkembang diantara gemerlap dunia hiburan yang tidak pernah tidur. Saya bertanya-tanya sejak kapan dan darimana Islam masuk ke Macau ?

Sebagai kota persinggahan perdagangan, ternyata tidak hanya bangsa Eropa saja yang singgah disini. Sejarah mencatat bahwa saudara-saudagar dari Gujarat, Persia, India dan beberapa negara di Timur Tengah lainnya juga singgah, walaupun hanya minoritas. Nah, para saudagar dari wilayah inilah yang memberikan pengaruh Islam. Artinya, pengaruh Islam di Macao terjadi seperti di Nusantara dan negara-negara Asia lainnya yakni melalui Jasa perdagangan.

Selain itu, menurut laman history cultural-china, perkembangan Islam di Macau juga karena pelarian Muslim etnis Hui setelah wilayahnya porak poranda karena Perang Dunia ke -2. Sebagian lagi berasal dari perantau dari wilayah Zhaoqing Provinsi Guangdong yang sudah terlebih dahulu mendapatkan pengaruh Islam.

Masjid Empat Bahasa

Jejak Islam di Macau dapat dilihat melalui Satu-satunya masjid yang berdiri hingga saat ini yakni The Macau Mosque and Cemetery – 澳門伊斯蘭清真寺及墳場. Dalam bahasa portugis disebut Mesquita e Cemitério de Macau dan terletak di Ramal Dos Moros. Masjid ini oleh wisatawan yang berasal dari Indonesia disebut sebagai Masjid empat bahasa. Disebut demikian karena Gapura Masjid terdapat penulisan yang menggunakan empat bahasa tersebut yakni Portugis, Inggris, Arab dan Mandarin.

Komunitas Muslim semakin berkembang dari waktu ke waktu dan tergabung dalam komunitas The Islamic Society Macau. Hingga saat ini anggotanya telah mencapai 400-500 Jiwa dan apabila ditambah dengan para Tenaga Kerja Indonesia dan beberapa negara Islam lainnya, jumlahnya bisa mencapai 5.000 orang. Perkembangan Islam di Macau memberikan pengaruh bagi para pemeluknya disana. Konon keluarga muslim yang berasal dari penduduk setempat sudah memberi nama Omar, Siti, Fatimah, Muhammad dan lain sebagainya pada anak-anaknya.

All About MACAU
MACAU GOVERNMENT TOURIST OFFICE – (Perwakilan Indonesia)
Alamat: Jalan Dr. Saharjo 96 A, Jakarta – Indonesia
Tel: +62- 21 -830 5664 Fax: +62- 21 – 8370 5912 Hotline Wisatawan +853 2833 3000 e-mail: [email protected]