preloder
Universitas Terbuka

Tempo hari tanpa rencana, saya ngobrol santai dengan tetangga sekampung. Sebut saja namanya Santi, lulusan UT tahun 2013 yang kini bekerja di sebuah Bank Swasta di Sleman Yogyakarta. Kebetulan Mbak San, begitu saya biasa memanggilnya, masih satu RT dengan saya dan sering ketemu saat latihan angklung bersama di balai RW.

Banyak hal yang akhirnya saya ketahui dan juga perlu diketahui oleh masyarakat tentang UT. Karena, ternyata masih ada orang yang belum tahu tentang UT. Bahkan hingga sampai saat ini pun masih ada yang menggangap kalau UT adalah universitas tanpa harapan, tidak bonafit dan hanya sebagai ‘pupuk bawang’ di Indonesia. Sumpah, nyinyir juga mendengar pendapat yang melecehkan seperti ini.

Nah, setelah mendengar penjelasan Mbak Santi, akhirnya saya pun menarik poin penting bahwa kalau ada orang yang berpendapat seperti itu berarti metaok alias ‘sok tahu‘, kata tetangga saya yang dari Madura. Kalau sekedar pupuk bawang, ‘gak mungkinlah sampai mencapai usia hingga empat windu (32 Tahun) dan telah mewisuda jutaan orang, ya kan?

Hadirnya UT sejak tahun 1984 justru telah memberikan peluang dan harapan bagi jutaan rakyat Indonesia untuk mengenyam pendidikan tinggi, terutama bagi yang terhambat secara ekonomis, geografis maupun demografis. UT-lah yang memberikan harapan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dengan ijazah kesarjanaan dan ilmu pengetahuan yang dimiliki para mahasiswanya.

UT telah memberikan kontribusi besar pada proses pembangunan manusia yang berpendidikan di tanah air ini.Hal ini selaras dengan visi UT yakni menjadi institusi PTTJJ berkualitas dunia dalam menghasilkan lulusan pendidikan tinggi yang memiliki daya saing tinggi serta dalam mengembangkan teori dan praktek PTTJJ (Pendidikan Tinggi Terbuka Jarak Jauh).

Nah, bagi yang belum tahu, bagi yang meremehkan UT, bagi yang pengin kuliah secara mandiri dan fleksibel baca 8 (delapan) poin berikut ini….

Universitas Terbuka
Universitas Terbuka

Iya! Mbak Santi ngejelasin ke saya kalau UT adalah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Ke-45 di Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 41 Tahun 1984.

Sebagai salah satu Peguruan Tinggi Negeri, tentu saja status dan gengsinya pun sama dengan PTN lain di Indonesia, .Nah dengan kepres itu, ibarat peribahasa UT itu “Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi” dengan UI, UGM, ITB, AIRLANGGA, UNEJ dan PTN-PTN lain di republik ini. Tuh, kan !

Bahkan, hanyak UT-lah yang mempunyai cabang (UPBJJ-UT-Unit Program Belajar Jarak-Jauh-UT) dimana-mana di Indonesia dari Sabang sampai Merauke hingga hingga 40 titik bahkan sampai ke luar negeri.

Universitas Terbuka
Universitas Terbuka
Universitas Terbuka

Inilah barangkali yang menjadi pertanyaan dan keragunan banyak orang, terutama bagi mereka yang baru lulus SMA.Mbak Santi bilang, kalau ada yang ragu dengan ijazah UT, itu paranoid dan lebay. Hah??Logikanya bagaimana, sih?

Lho khan status UT adalah PTN ke-45 jadi secara otomatis dong status ijazahnya pun jelas, legal dan dijamin setara dengan ijazah yang dikeluarkan oleh universitas negeri lainnya di Indonesia. Sederhana, kan ?

Nah, karena dijamin setara maka ijazah UT pun marketable dan sangat welcome buat ngelamar kerja di perusahaan-perusahaan swasta, BUMN bahkan menjadi PNS bagi yang mau mengabdi kepada negara. Begitu kata Mbak Santi. Denger Tuh !

Sampai disini saja udah bisa “menampar” logika mereka yang gak percaya apalagi sampai menghina, meremehkan dan menganggap rendah ijazah dan gelar kesarjanaan lulusan UT. Sorry ya kalau sampeyan masih ngotot, itu SALAH BESAR..

Universitas Terbuka
Universitas Terbuka
Universitas Terbuka

Udah banyak lho alumni UT, kata Mbak Santi. Sejak tahun 1986, UT telah mewisuda 1,3 juta mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu.

Alumni-alumninya selain tersebar di berbagai daerah di Indonesia, juga tersebar hingga ke 16 negara lain kayak Singapura, Malaysia, Hongkong, Macau, Arab Saudi dan negara-negara penempatan TKI lainnya.

Bisa jadi sampeyan akan terbelalak ketika mengetahui bahwa banyak orang-orang penting dan pesohor di negeri ini yang merupakan Alumni UT. Siapakah “orang-orang besar” yang pernah belajar di UT ?

Salah satunya adalah Ibu Ani Bambang Yudhoyono. Siapa coba he..he..he ? Iya betul istri tercinta mantan presiden ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono. Beliau adalah alumni FISIP UT lulusan Tahun 1998. Tuh kan !

Di jajaran Kementeriaan Negara Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II yang lalu juga terdapat menteri-menteri yang dulunya kuliah di UT. Beberapa diantaranya yang saya tahu adalah Joko Suyanto mantan Menko Polhukam. Beliau merupakan alumni S1 FISIP UT lulusan tahun 1996.

Kemudian Laksamana Pertama TNI (Purn) H. Eko Maulana Ali, SE mantan Gubernur Bangkabelitung yang telah Wafat pada tahun 2013 lalu juga adalah alumni Fakultas Ekonomi UT. Nah, kalau anda melihat berita di televisi pasti tahun dong siapa itu Linda Amalia Sari. Yes, beliau adalah Mantan Meneg Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II. Beliau adalah alumni FISIP UT Tahun 1995 Jurusan Administrasi Negara.

Ada juga nih, Letjen TNI. (Purn). EE Mangindaan, SE yang pernah menjabat sebagai Meneg P.A.N dan Reformasi Birokrasi ternyata juga alumni UT S1 FISIP tahun 1995.

Universitas Terbuka
Universitas Terbuka

Orang-orang penting lainnya yang merupakan alumni UT adalah Mantan Panglima TNI/Ketua Umum Partai Hanura Wiranto, Mooryati Soedibyo (Owner Mustika Ratu kosmetik) dan Dewi Motik (Owner MONO Grup). Kalau yang bekerja di industri kreatif, beberapa pesohor tanah air yang merupakan alumni UT ini, sebut saja Dewi Hughes, Asmirandah, Diah Permatasari dan Elis Stannia (Stardut). Keren kan ?

Universitas Terbuka
Universitas Terbuka

“Ah, siapa bilang ada batasan usia ?’ Kata mbak Santi. Belajar di UT itu tidak terbatas usia, tempat dan waktu. Yang penting minimal telah lulus SMA atau sederajat. Demikian juga tidak mmebatasi profesi tertentu.

Contohnya nih…dari total 299.317 orang mahasiswa yang teregistrasi tahun 2016, mereka yang berprofesi sebagai guru paling banyak, tuh. Prosentasenya mencapai 71,59%. kemudian yang berprofesi sebagai karyawan swasta 11,15%, TNI/POLRI 1,21% dan seterusnya.

Kalau dilihat dari usia, mahasiswa yang kuliah di UT justru di dominasi oleh kaum muda usia produktif dibawah 25 tahun sebesar 25.60%, sedangkan usia 25 – 29 tahun adalah 64.13%.

Menariknya lagi adalah mahasiswa yang berumur 40-44 tahun. Mahasiswa usia ini sebanyak 7,21%. Kalau mahasiswa dengan usia 44 tahun ke atas malah lebih besar lagi yakni 12,65%. Jadi kesimpulannya adalah bahwa kuliah di UT….
Tidak terbatas usia; Diminati sekali oleh banyak kalangan dan profesi;

Universitas Terbuka
Universitas Terbuka
Universitas Terbuka
Universitas Terbuka

“Ah, ya enggaklah!” Jawab Mbak Santi. Belajar/kuliah di UT enggak tiap hari ketemu sama dosen.

Nah lo, Kuliah yang bagaimana ini? Bukannya yang namanya kuliah harus ketemu sama pak dan bu dosen, tho? Apa artinya, tuh?Itu karena UT menerapkan kuliah dengan sistem belajar jarak jauh dan terbuka, kata Mbak Santi.

Jarak jauh berarti pembelajaran tidak dilakukan secara tatap muka, melainkan menggunakan media, baik media cetak (modul) maupun non-cetak (audio/video, komputer/internet, siaran radio, dan televisi). Sedangkan makna terbuka adalah tidak ada pembatasan usia, tahun ijazah, masa belajar, waktu registrasi, dan frekuensi mengikuti ujian

Kalau gitu mahasiswanya ‘gak perlu ngekost, dong. Ya iyalah, ngapain ngekost lha wong belajarnya bisa mandiri di rumah sendiri, kok. Lagian kan pakai teknologi komunikasi online, jadi modul dan materi pembelajaran baik berupa text, audio maupun audio-visual (video) dapat diakses oleh mahasiswa menggunakan perangkat apapun seperti laptop, tablet dan smartphone.

Trus, apakah kuliahnya pakasi sistem SKS (Satuan Kredit Semester) seperti kuliah di perguruan tinggi tatap muka? Oh ya kalau ini pasti. UT seperti halnya perguruan tinggi yang lain, menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS) untuk menetapkan beban studi mahasiswa.

Dalam sistem ini, beban studi yang harus diselesaikan dalam satu program studi diukur dengan satuan kredit semester (sks). Setiap mata kuliah diberi bobot 1-6 sks. Satu semester adalah satuan waktu kegiatan belajar selama kurang lebih 16 minggu.

Kalau kuliah di UT, satu SKS disetarakan dengan tiga modul bahan ajar cetak. Satu modul terdiri dari 40-50 halaman, sehingga bahan ajar dengan bobot 3 sks berkisar antara 360-450 halaman, tergantung pada jenis mata kuliahnya diperlukan waktu sekitar 75 jam.

Apabila satu semester mempunyai waktu 16 minggu, maka waktu yang diperlukan untuk membaca dan memahami bahan ajar dengan bobot 3 sks adalah 75 jam dibagi 16 minggu, atau kurang lebih 5 jam per minggu.Misalnya, mahasiswa mengambil 15 sks/semester, maka yang bersangkutan harus mengalokasikan waktu belajar sebanyak 15 sks dibagi 3 sks kali 5 jam = 25 jam per minggu atau kira-kira 5 jam per hari dengan asumsi 1 minggu dihitung 5 hari belajar.

Universitas Terbuka

Terkait dengan Tutorial belajar di UT, Mbak Santi yang pernah kuliah di UT menjelaskan bahwa, tutorial belajarnya terdiri dari 2 (dua) model, yakni :

A. Tutorial Online (TUTON)
Tutorial Online atau tutorial elektronik ini ada di website/situs UT Pusat yang beralamatkan di http://www.ut.ac.id/ atau di http://itv.ut.ac.id/ Situs ini dapat diakses oleh semua mahasiswa dengan menggunakan jaringan internet.

Nah, melalui layanan ini semua mahasiswa bisa melihat tutorial yang berbentuk video streaming. Jadi seperti kuliah UT melalui TVRI / TPI jaman dulu itu. Asiknya belajar dengan tuton ini adalah jam belajarnya bebas. Tentu saja setiap mahasiswa mendapatkan login system untuk bisa menikmati fasilitas ini.

B. Tutorial Tatap Muka (TTM), yang terdiri dari 2 jenis :

a) TTM Online
Sebut saja ini kuliah secara online dengan menggunakan teknologi streaming melalui situs http://elearning.ut.ac.id/Dosen/Tutor akan memberi teori-teori sesuai dengan mata kuliah yang diambil mahasiswa setiap semesternya.

Layanan ini gratis dengan login khusus bagi setiap mahasiswa serta terjadwal secara rutin. Bagi yang tidak bisa mengikutinya bagaimana?

Bagi yang absen mengikuti TTM dapat mendownload atau menonton kembali streaming rekaman kuliah dan juga materi perkulihanan di webnya UT.

b) TTM Kelas
Ini adalah proses pengajaran di kelas secara Face to Face dengan para tutor. TTM Kelas ini sebanyak 8 pertemuan dengan kewajiban hadir sebanyak 5 kali dalam setiap semester.

TTM umumnya diadakan di hari sabtu atau minggu, bahkan terkadang menyesuaikan waktu peserta TTM-nya.Bagi mahasiswa yang berhalangan hadir pada TTM kelas, juga dapat mengunduh/menonton stream rekaman kuliah dan juga materi perkuliahan seperti TTM Online itu.

Universitas Terbuka

Nah, untuk mendukung sistem belajar di UT agar lebih optimal, UT juga bekerja sama dengan instansi lain seperti Bank BRI, Bank BTN, Bank Mandiri, TV-Edukasi, Sky LBS TV, Radio Republik Indonesia (RRI), Radio Siaran Pemerintah Daerah (RSPD), Radio Siaran Swasta, Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota, Konsulat Jenderal/KBRI, Perpustakaan Nasional RI dan Perpustakaan Daerah, Arsip Nasional, Koperasi Karunika, Garuda Indonesia, dan PT Pos Indonesia.

Disamping itu, UT juga bekerja sama dengan instansi-instansi lain yang bermaksud meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui berbagai program yang ditawarkan UT, seperti ANRI, BKN, Bank Danamon, Pemerintah Kota/Kabupaten, Pondok Pesantren, Kowani, dan POLRI.

Universitas Terbuka
Universitas Terbuka

“Oh pasti berkualitas, dong.” kata Mbak Santi. “Mau bukti ?”

A. TERAKREDITASI
UT telah terakreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) sejak 2011.

Akreditasi tersebut meliputi 34 program studi program pendidikan diploma, sarjana dan pasca sarjana.

Semua program diploma dan magister mendapat akreditasi B. Untuk program sarjana, 4 program studi mendapat akreditasi A, 22 program studi terakreditasi B dan hanya 1 program studi terakreditasi C. 

B.SERTIFIKAT ISO 9001
UPBJJ-UT telah mendapatkan Sertifikat ISO 9001 : 2008 dalam bidang Manajemen Pembelajaran Jarak Jauh (MPJJ) dan Manajemen Akademik (MA).

C. SERTIFIKAT KUALITAS (ICDE)
UT telah menerima Quality Certificate dari International Council for Open and Education (ICDE). Sertifikat tersebut menandakan bahwa UT telah menerapkan sistem penyelenggaraan pendidikan terbuka dan jarak-jauh yang berkualitas dunia.

Selain itu materi pembelajaran (Buku Materi Pokok/Modul UT) yang dipakai di setiap program studi tersebut juga sangat terjamin. Modul-modul yang dipergunakan tidak sembarang dibuat karena sudah terstandarisasi secara internasional.

Buktinya adalah modul-modul yang dipakai UT telah memperoleh ISO 9001 dan ICDE (Internasional Council for Distance Education) seperti tersebut diatas. Bahkan, beberapa universitas swasta mengadopsi modul ini. UT Indonesia juga telah bekerjasama dengan UT lain dari negara lain seperti Open University of Malaysia. Keren kan ?

Universitas Terbuka
Universitas Terbuka

“Kalau sulit atau tidaknya itu tergantung dari mahasiswa masing-masing. Karena sistem belajarnya kan mandiri,” Kata Mbak Santi.”Ujian pastilah ada.

Mahasiswanya kan orang kuliahan jadi juga ada ujian-ujian pedalaman modul, gitu.ujian pendalaman modul diadakan sebanyak dua kali setiap semesternya, minggu pertama dan minggu kedua.

Ujian diadakan di sekolah-sekolah (SMP/SMA) yang berada disekitar kantor perwakilan UT (UPBJJ) di setiap daerah, dalam dan luar negeri.

 

Skrirpsi? Kuliah di UT tidak ada skripsi, akan tetapi untuk lulus setiap mahasiswa di wajibkan untuk mengikuti Tugas Akhir Program (TAP).Mulai tahun 2013, mahasiswa UT juga diharuskan untuk membuat karya ilmiah sebagai syarat kelulusan.

Karya ilmiah ini dapat disamakan dengan skripsi, bedanya kalau karya ilmiah mungkin tanpa sidang seperti skripsi akan tapi lebih mirip seperti seminar.

Secara umum hasil evaluasi belajar mahasiswa UT diukur melalui Ujian Akhir Semester (UAS), pengerjaan tugas dan partisipasi dalam kegiatan TTM atau Tuton, Praktik atau Praktikum, Tugas Akhir Program (TAP), Karya Ilmiah dan ujian sidang Tugas Akhir Program Magister (TAPM)/Tesis khusus untuk Program Pascasarjana.

Universitas Terbuka
Universitas Terbuka
Universitas Terbuka

“Hussssss….kuliah di UT itu murah puoooolll.” kata Mbak Santi yang dulu ambil Fakultas Ekonomi. Biaya SKS-nya hanya Rp. 36.000/SKS.

Kalau ikut TTM hanya nambah biaya administrasi sebesar 150.000/mata kuliah. Sedangkan untuk TUTON, mahasiswa tidak perlu membayar alias gratis.

Penasaran? Coba buka link berikut kalau gak percaya [LINK]

Oh ya, kuliah di UT juga ‘gak usah bayar uang gedung, sumbangan atau apapun yang biasanya menjadi pungutan seperti di universitas-universitas lainnya. Kata Mbak Santi mengakhiri obrolan sore itu.

Nah, semoga 8 poin itu dapat membuka wacana pemikiran mereka yang belum tahu, yang masih ragu dan yang mengira UT itu universitas kacangan alias ecek-ecek gitu. Bagi saya pribadi, semoga tulisan ini bisa memberi inspirasi siapa saja untuk Indonesia yang lebih baik.

  • UT adalah universitas negeri ke-45 di Indonesia;
  • Selama 32 tahun, UT menjadi bagian penting bagi pendidikan nasional dalam upaya mencerdaskan bangsa;
  • Belajar di UT sangat mengasikan karena dilakukan secara mandiri, fleksible dan bertanggung jawab dengan menggunakan teknologi komunikasi online;
  • Modul-modul pembelajaran UT diakui secara internasional dan menjadi rujukan universitas lain dalam dan luar negeri;
  • Lulusan UT mempunyai kualitas dan kemampuan yang sama dengan lulusan universitas lain serta mampu diserap oleh dunia kerja baik swasta maupun di pemerintahan;
  • Biaya kuliah di UT sangat terjangkau untuk semua lapisan masyarakat;

Universitas Terbuka

paper torn

Jengyuni.com adalah personal website yang dibangun dari “ketidaktahuan” dan “keterlambatan” memasuki dunia digital. Di saat orang-orang sudah membuat startup yang menghasilan dollar bertumpuk-tumpuk,
jengyuni masih asik soscmed-an dan malah hanya membaca keberhasilan orang lain di portal-portal berita
melalui layar smartphone yang besarnya tak lebih dari 5 inc.