preloder
capres

Entah kenapa, menyimak debat calon Presiden RI di SCTV (9/6) malah membuat semakin bingung untuk menentukan siapakah presiden yang akan saya pilih, 9 Juli nanti. Debat yang dimoderatori oleh Dr. Zaenal Arifin Mochtar, SH, LLM dari UGM ini menurut saya GAGAL dan sangat TIDAK MENARIK.

Jawaban yang diberikan oleh masing-masing pasangan capres jauh dari ekspektasi saya. Banyak jawaban yang membias kemana-mana dan tidak nyambung dengan pertanyaan moderator. Tema debat Membangun Demokrasi, Pemerintahan yang bersih dan Pembangunan Negara Hukum tidak bisa mengekplorasi visi dan misi keduanya secara maksimal.

Jokowi yang sehari sebelumnnya mendapatkan pembekalan tiga orang pengamat politik sekaligus yakni Andrinof Chaniago, Ari Dwipayana dan Sukardi Rinakit, nampak tidak fokus dalam menjawab pertanyaan moderator.

Di termin awal, jawabanya lebih banyak bercerita tentang pengalaman pribadi saat memimpin Solo dan Jakarta seperti blusukan, rekuritmen – promosi terbuka dan sejenisnya ketimbang memberikan jawaban dalam tataran seorang calon presiden yang harus bertanggung jawab atas 253.609.643 penduduk Indonesia ke depan.

Pun demikian jawaban yang diberikan oleh Prabowo. Walaupun dari segi kemampuan retorika lebih unggul dibandingkan Jokowi akan tetapi dalam debat tersebut tidak banyak menolong. Pertanyaan moderator dijawab secara dangkal dan tidak menyentuh esensi sama sekali. Yang fatal menurut saya, adalah adanya jawaban yang saling bertentangan dengan Hatta ketika menggambarkan tentang negara demokrasi.

Mungkin saja karena latar belakang seorang militer, Prabowo lebih memilih bahwa demokrasi adalah alat untuk mencapai tujuan negara ketimbang sebagai sebuah nilai-nilai penting (Core Value) yang mendasari mentalitas bangsa seperti yang disampaikan oleh Hatta Rajasa.

Baik pasangan Prabowo-Hatta maupun Jokowi-JK nampaknya tidak cukup pandai meyakinkan jutaan rakyat Indonesia dalam debat ini. Tidak cukup cerdas menguasi materi debat. Ibarat orang makan kacang, kedua capres ini justru malah memilih makan kulitnya ketimbang mengunyah isinya.

Lihatlah akhir debat yang menurut saya menggelikan ketika moderator memberikan waktu kepada masing-masing capres untuk memberikan pernyataan tentang alasan apa agar rakyat memilihnya sebagai presiden untuk lima tahun mendatang.

Jawaban Jokowi lagi-lagi ambyar tidak karuan dan hanya melontarkan komitmen janji kerja keras siang dan malam. Bahkan waktu enam menit yang diberikan moderator dimanfaatkan Jokowi untuk mengungkapkan ucapan terima kasih dengan menyebut satu per satu anggota keluarganya dan keluarga JK. Mungkin Keluarga Megawati dan Puan Maharani harus antri menunggu ucapan terima kasih tersebut pada debat putaran kedua nanti. Aneh !

Pernyataan akhir Prabowo pun juga tidak menarik sama sekali. Jujur, saya masih bingung menafsirkan hubungan antara menyelamatkan kekayaan negara dari kekuasaan asing dengan demokrasi. Saya rasa kalau isue ini yang terus menerus dipergunakan untuk kampanye pilpres oleh Prabowo, maka akan sangat tidak menarik dan menjemukan.

Menyimak hingga selesai acara debat, akhirnya saya menyimpulkan bahwa debat putaran pertama dari lima rangkaian yang diagendakan KPU ini tidak lebih menarik dari debat pemilihan ketua RT di kampung saya. Dari enam termin debat, saya tidak menemukan pernyataan cerdas dari masing-masing capres tentang Grand Design Indonesia 5 tahun mendatang. Semoga ada perubahan untuk debat putaran selanjutnya.