preloder

Beberapa hari ini setiap kali surfing di media online, saya selalu melihat nama Susi di sebut-sebut. Bukan Susi Similikiti-nya Tukul Arwana. Bukan pula Susi[s]-nya Sule, Kepala Suku Suami Takut Istri, tetapi Susi Pudjiastuti Menteri Kelautan dan Perikanan yang dulu konon sering dipanggil Susi Gila ! 

Percaya saja sama saya, kalau Susi adalah figur segelintir perempuan yang pikirannya paling waras dan visioner. Bukan karena telah menjabat sebagai menteri dikabinet kerja Jokowi tetapi karena pola pikirnya yang Out of the box dibanding kebanyakan orang. Wajar saja kalau sukses dalam umurnya yang baru menginjak 49 tahun.

Kalau dilihat dari latar belakang keluarganya yakni sebagai saudagar ternak dan kakek buyutnya adalah tuan tanah di pangandaran, Susi tumbuh dalam kondisi keluarga yang berkecukupan alias mapan. Lalu, kenapa hanya berijazah SMP ?

Konon dia memutuskan berhenti dari bangku kelas 2 di SMAN I Yogyakarta setelah dikeluarkan oleh sekolah karena aktif dalam gerakan golput yang sangat diharamkan oleh penguasa (Order Baru) saat itu. Saya yakin Susi tidak hanya ikut-ikutan, tetapi didasari keyakinan dan keberanian yang hanya dimiliki oleh sedikit perempuan. 
Disaat kebanyakan orang berebut untuk bisa sekolah dan kuliah, justru dia memilih menjadi pengepul ikan laut dengan modal 750 ribu saat itu. Keuletannya itu membuka pintu keberhasilan. Tiga belas tahun kemudian (1996) berhasil mendirikan pabrik pengolahan ikan, PT ASI Pudjiastuti Marine Product yang fokus pada produk lobster dan pada tahun 2004 mendirikan perusahaan penerbangan perintis “Susi Air”. Di perusahaan ini Susi yang telah memperkerjakan ratusan pilot-pilot asing dan lokal. 
Susi telah berhasil dengan baik memaknai esensi dari sebuah pembelajaran dimana Untuk menjadi sukses dan kaya, orang tidak mutlak harus sekolah atau kuliah, tetapi mutlak butuh belajar. Begitu kurang lebihnya. 

Maaf, saya bukan anti program wajib belajar dan selalu meyakini bahwa pendidikan formal itu masih menjadi prasyarat dasar Mencari Kerja di Indonesia. Akan tetapi saya mencoba mencermati realitas bahwa kebanyakan mereka yang sekolah dan kuliah terjebak pada dialektika standart yakni mencari pacar, membaca diktat, ujian skripsi, wisuda dan ditutup dengan mencari kerja
Entahlah, apakah ini efek dari sistem pendidikan nasional kita atau gambaran mentality kebanyakan orang, yang pasti perusahaan Careerbuilder telah mencatat bahwa 83.18 % pencari kerja di Indonesia adalah lulusan perguruan tinggi alias sarjana. Saya geli dan mentertawakan diri sendiri. Pada kenyataannya saya juga terlambat menemukan makna bahwa sekolah dan kuliah hanyalah kunci untuk MEMBUKA CAKRAWALA PEMIKIRAN semata. 
Kalau kebanyakan orang dengan kuliah sekalipun tidak mampu membuka Cakrawala Pemikiran diri sendiri, tidak begitu dengan Menteri Susi. Beliau sukses mengelola pemikiran secara produktif sejak drop out SMA dan memutuskan menjadi berdagang ikan. Bisa jadi Susi mempunyai pemikiran bahwa untuk apa sekolah atau kuliah kalau akhirnya hanya menjadi orang-orang yang dibayar (Pegawai), mending berdagang dan  berwiraswasta karena minimal menjadi Bos bagi diri kita sendiri.

Saya salut dengan Susi dan tidak ikut-ikutan menghujat dan meragukan kemampuannya menjadi orang nomor satu di departemen kelauatan dan Perikanan selama 5 tahun ke depan. Persetan dengan Ijazah SMP, persetan dengan tato, persetan dengan kebiasaan merokoknya dan persetan dengan gaya tomboy-nya.  “Damn, I like Menteri Susi !” Indonesia butuh gebrabak dari orang-orang pemberani lintas gender dengan ide-ide gila. 

Ada cerita seru tentang Susi. Konon setelah diumumkan oleh Presiden Jokowi, menteri Susi ditanya oleh para wartawan yang mengerubunginya,
Wartawan:” Bu Susi Selamat dan Sukses Ya ” 
Menteri Susi:“Terima Kasih”
Wartawan:” Ngomong-ngomong, apa benar Ibu hanya lulus SMP ya ?”
Menteri Susi:” Iya Betul, Saya hanya punya Ijazah SMP “
Wartawan:” Wuih…lulusan SMP saja ibu bisa kaya, punya perusahaan dan jadi menteri,
  Apalagi kalau ibu lulusan Universitas, ya “
Menteri Susi:” Kalau saya lulusan Universitas Justru malah akan jadi karyawan.
   Seperti Kebanyakan orang, Mas !”
Wartawan:” Ha..ha..ha.. Benar Juga Ya Bu.”