preloder
cinta

Dulu waktu di kampus, banyak mahasiswi cantik yang mestinya bisa engkau pacari. Banyak juga adek-adek tingkat yang manis-manis dan mudah engkau dekati lalu kau miliki. Tapi kenapa engkau memilih aku, mahasiswi yang biasa saja yang mungkin tidak masuk hitungan untuk menjadi kekasihmu.

Aku nyaris tak percaya, ketika engkau menggandengku erat-erat, menyusuri jalan kampus Fakultas Sospol Universitas Jember. Jalan itu seperti panjang sekali, ratusan meter dari perpustakaan rektorat. Kita kecapaian, akhirnya duduk di sebuah bangku batu tepat di bawah pohon cemara yang berdaun jarang. Disekitar nampak remang dalam cahaya bulan malam ke 26 dibulan Agustus, 17 tahun lalu.

Aku hanya terdiam. Sepertinya merasa bahagia ketika engkau masih menggenggam tanganku dan mengatakan,”Dik, aku sepertinya jatuh cinta kepadamu. Maukah engkau menjadi pacarku?”. Oh, aku malu saat itu. Tetapi aku yakin engkau tahu jawabanku karena aku tidak berusaha melepas peganganmu.

Sedetik aku seperti terbuai dengan kata-kata itu, setelahnya itu engkau mencium bibirku. Sejenak kemudian engkau bilang kepalamu pusing, mungkin karena lipstiku. Sumpah! Itu membuatku malu karena aku tidak pernah melakukan hal itu. Itu yang pertama kali. Tapi apa dayaku, aku terlanjur terbuai bahagia, anganku melambung tinggi seperti anai-anai yang keluar dari sarangnya. Terbang berpencar kesana kemari.

Lalu, hari-hari kita lalui bersama setelah itu. Benar-benar tak terpisahkan melewati suka dan duka. Pernah engkau mengantar nasi bungkus dengan lauk pindang goreng ke kostku yang berjarak 3 km dari kostmu. Lalu aku tanya, kenapa jalan kaki kok tidak naik bis kampus? Aku kaget sekali ketika engkau bilang tidak pegang uang. Lalu aku tanya, lho, nasinya dibeli pakai apa? Aku juga terhenyak mendengar jawabmu. Engkau bilang hutang di warung depan kost. Oh, sampai segitu pengorbananmu, hanya demi mengantar sebungkus nasi engkau melakukan itu. Aku menangis sesenggukan dikamar sepulangmu.

Terima kasih. Nasi bungkus itu menolong laparku yang sedari siang belum terisi selain air putih dan jambu biji yang ada di depan kost. Kiranya engkau tahu, akupun saat itu tidak memegang uang barang serupiahpun. Wesel dari ibu tak kunjung datang.

Banyak cerita yang telah kita buat bersama. Tak terhitung juga seberapa jauh kita melewati jalan-jalan untuk sekedar menghibur diri di alun-alun kota Jember, melihat lalu lalang mobil dimalam hari. Ataupun, jalan-jalan di pusat perbelanjaan melihat tas, baju, kaos yang juga tidak pernah terbeli.

Aku tahu kemampuanmu dan aku tak memaksakan apapun kehedakku. Aku cukup bahagia, ketika engkau belikan vas bunga seharga sepuluh ribu di penjual emperan depan Mall Sumber Mas. Kau isi vas itu dengan setangkai edelweis kering, oleh-oleh teman Mapala dari Gunung Bromo. Itu hadiah ulang tahunku.

Tak tergambarkan lagi betapa banyak peristiwa yang kita lalui berdua. Hingga engkau menepati janjimu. Tepat ditahun dengan angka kembar, 2002, Engkau menikahiku ! Hingga tak terasa sudah 12 tahun sudah kisah cinta itu.

Aku sering terharu bila mengingatnya. Kelak akan aku ceritakan perjalanan cinta itu kepada putra-putri kita ketika dewasa. Bagaimana dulu ayah ibunya bertemu dan menjalani hidup. Agar mereka semakin bersyukur atas apa yang telah dianugerahkan Tuhan kepadanya.

Suamiku ! Aku ingin 1000 tahun lagi bersamamu !

paper torn

Jengyuni.com adalah personal website yang dibangun dari “ketidaktahuan” dan “keterlambatan” memasuki dunia digital. Di saat orang-orang sudah membuat startup yang menghasilan dollar bertumpuk-tumpuk,
jengyuni masih asik soscmed-an dan malah hanya membaca keberhasilan orang lain di portal-portal berita
melalui layar smartphone yang besarnya tak lebih dari 5 inc.