preloder
lebaran

Akhirnya sampai juga di kota harapan Yogyakarta setelah lebih dari sebulan menyempurnakan puasa dan merayakan lebaran di kota kelahiran, Brebes. Apa yang saya dapat tahun ini sangat luar biasa. Setiap bagian yang terlewati telah menjadi kumpulan cerita yang sangat mengesankan. Saya patut bersyukur untuk itu. Kiranya Tuhan Semesta Alam telah memberikan anugerah yang tiada terhingga.

Bencana Mudik
Pengalaman terjebak kemacetan di Comal selama lebih dari empat jam menjadi kepingan cerita yang tidak terlupakan. Jembatan yang dibangun pada jaman penjajajan Belanda dan telah mengalami renovasi beberapakali tersebut akhirnya tersungkur runtuh tak mampu menopang beban di awal Romadhon lalu. Antrian panjang pemudik yang mau melewati jembatan ini mencapai lebih dari 10 km. Saya dan keluarga salah satu diantara antrian tersebut.

Antrian panjang ini pun menjadi penyebab kemacetan di jalur alternatif lain karena volume kendaraan yang tidak tertampung oleh kapasitas jalan. Ini adalah bencana bagi pemudik tahun ini. Kendaraan berjalan tersendat. Hampir setiap 5 meter harus berhenti beberapa saat. Tersendatnya laju perjalanan ini karena Jalur dari dan ke Jakarta menggunakan satu ruas jalan yang masih normal.

Antrian panjang ini mengakibatkan banyak yang terpaksa membuang air kecil dipinggir-pinggir jalan. Ini menjadi pemandangan yang unik.

Berkumpul Keluarga
Tahun ini memang kami mudik lebih awal mengingat karena anak-anak sudah mulai libur. Bisa dibayangkan kan, betapa bahagia menyempurnakan puasa dan melewati lebaran ditengah-tengah keluarga besar. Saking bahagianya bersama keluarga mengkibatkan update blog malah terabaikan padahal dirumah juga terpasang hotspot speedy. Lagian waktu memang habis untuk menyiapkan kebutuhan berbuka dan saur bagi keluarga dan kegiatan-kegiatan lainnya. Sedangkan waktu malam hari untuk teraweh dan beristirahat.

Lebaran tahun ini sepertinya saya juga semakin menua. Apalagi kalau melihat keponakan-keponakan yang lama tidak bertemu, seolah dunia ini cepat sekali berputar. Mereka yang tahun-tahun lalu masih anak-anak sekarang sudah tubuh besar. Kalau lagi kumpul, rumah seperti pasar, ramai sekali. Menyenangkan melihat mereka berjejer dilantai seperti pindang saat bermain internet menjelang berbuka puasa.

Melihat hal ini, sepertinya tidak ada alasan bagi saya untuk tidak bersyukur atas rahmat Allah SWT yang mengalir setiap hari tanpa bisa dihitung satu per satu.

Halal Bi Halal Keluarga
Salah satu kemeriahan lebaran yang paling dinanti bersama keluarga adalah halal bi halal. Kebetulan sekali baik dari trah keluarga ibu maupun ayah masing-masing melaksanakan tradisi ini. Pada lebaran tahun ini, halal bi halal trah Bani Yoesaid (keluarga ibu) dilaksanakan hari kedua setelah lebaran di Brebes sedangkan dan trah Iskak Mardhana (keluarga Bapak) hari ketiga di Batang.

Tidak sekedar bersenda gurau, bercengkerama dan makan bersama, Halal bi halal keluarga menjadi hidup dan meriah karena ada lomba-lomba anak-anak, doorprize, tausiah, hiburan solo organ dan diakhiri dengan bersalam-salaman bermaaf-maafan.

Sebutir Hikmah
Dibalik musibah terjebak dalam kemacetan parah di Comal, lebaran tahun ini memberikan hikmah keyakinan dan kepasrahan pada sang Khalik serta rasa syukur atas nikmat-Nya. Semoga saya dan keluarga dipertemukan lagi dengan indahnya lebaran tahun depan dengan kemakmuran yang berlipat dan atas rahmat dan ridho-Nya.

Inilah catatan lebaran tahun ini, semoga menjadi doa dan di kabulkan. Amien.

paper torn

Jengyuni.com adalah personal website yang dibangun dari “ketidaktahuan” dan “keterlambatan” memasuki dunia digital. Di saat orang-orang sudah membuat startup yang menghasilan dollar bertumpuk-tumpuk,
jengyuni masih asik soscmed-an dan malah hanya membaca keberhasilan orang lain di portal-portal berita
melalui layar smartphone yang besarnya tak lebih dari 5 inc.