preloder
pramesti

Dulu ketika masih di Kudus, kami sering megunjungi cafe yang asik untuk kongkow. Ball Cafe namanya. Letaknya dikanan jalan bila dari garasi bus Nusantara (depan Matahari) ke arah Musium Kretek, Jati.

Tempatnya tidak terlalu besar, tetapi ramai dikunjungi oleh orang-orang. Rush Hour-nya menjelang makan siang hingga malam hari. Ramainya bukan main. Biasanya ABG-ABG yang pada nongkrong di cafe itu. Saya kira mereka tertarik dengan menu makanannya yang sederhana, enak dan murah. Padahal menu yang disajikan hanya nasi goreng, kentang goreng, steak dan warna-warni minuman ringan.

Cafe ini bersih. No Alcohol karena yang punya seorang haji. Satu hal lagi yang menarik hati saya adalah bisa berkaraoke sembari menunggu pesanan atau sehabis makan tanpa harus beranjak dari tempat duduk. Pengunjung hanya menambah seribu perak per lagu. Bila ramai masing-masing meja hanya kejatah 4-5 lagu setelah itu microphone pindah kemeja lain, begitu seterusnya.

Pengalaman di Ball Cafe itu membekas dihati saya. Sumpah, saya terus bermimpi membuat usaha ‘ratengan’ seperti itu. Sayang sekali impian itu belum kesampaian karena alasan modal.

Pramesti – Menu Makanan Yang di Tangguhkan
Bila hidayah itu saya dapatkan, maka tempat kongkow itu akan saya beri nama “Pramesti”. Mungkin sedikit aneh ya. Pramesti adalah nama akhir Si Kecil Ayunda yang lengkapnya adalah Kayla Ayunda Narapramesti.

Lebih dari sekedar Ball Kafe yang telah menjadi inspirasi, saya justru berkeinginan menjadikan kafe itu nantinya penuh berkah, tidak hanya bagi karyawan juga bagi pengunjung. Ini saya simbolkan dalam tageline Come and Share yang artinya datang dan berbagi. Caranya ?

Caranya adalah dengan makanan yang ditangguhkan. Hmmm, Ini akan aneh karena tidak biasa di republik ini. Yang saya maksudkan makanan yang ditangguhkan adalah pengunjung akan membayar menu makanan tertentu dengan harga 2 kali lebih mahal dari harga sebenarnya. Misal sepiring nasi goreng akan harganya Rp. 7.500 maka pengunjung akan membayar dengan harga Rp. 15.000. Lalu buat apa pelipatan pembayaran itu ?

Pelipatan pembayaran itu akan diwujudkan dalam bentuk makanan yang sama dan akan disediakan bagi fakir miskin, anak-anak terlantar, yatim piatu, musafir-musafir atau siapapun yang tergolong ‘tidak mampu’ dan membutuhkan makanan.

Setiap hari cafe akan menyediakan makanan atau minuman yang ditangguhkan dari pengunjung hari sebelumnya. Begitu seterusnya. Pembagiannya bagaimana ? Mereka bisa makan ditempat karena akan disediakan tempat khusus yang tidak akan mengganggu kenyamanan pengunjung kafe, atau dibungkus dan dibawa pulang. Cafe akan memberikan update informasi terkait jumlah dan jenis seyiap hari di halaman depan.

Bagaimana kalau dimanfaatkan oleh orang-orang yang “mengaku” tidak mampu ? Itu urusan Allah dengan orang tersebut. Apakah perlakuan ke setiap pengunjung sama? Tidak sama sekali karena Makanan yang di Tangguhkan ini bersifat fakultatif alias suka-suka. Bagi yang mau silahkan bagi yang tida juga no problem. Intinya, cafe hanya mengajak pengunjung bersifat dermawan bahwa ada hak orang lain dalam rejeki dan harta kita. Itu saja!

Semoga Allah memberi jalan untuk memulai Cafe dengan makanan yang ditangguhkan itu. Amien.

paper torn

Jengyuni.com adalah personal website yang dibangun dari “ketidaktahuan” dan “keterlambatan” memasuki dunia digital. Di saat orang-orang sudah membuat startup yang menghasilan dollar bertumpuk-tumpuk,
jengyuni masih asik soscmed-an dan malah hanya membaca keberhasilan orang lain di portal-portal berita
melalui layar smartphone yang besarnya tak lebih dari 5 inc.