preloder

Ajining Diri Ono Ing Lathi, Ajining Roso Ono Ing Busono”

Salam Budaya. Halo, piye khabare dab?
Kita baru saja memperingati Hari Batik Nasional tanggal 2 Oktober kemarin. Kita pasti pakai batik sehari itu, kan? Saya yakin ada rasa bangga memakainya, apalagi setelah kita tahu bahwa batik diakui sebagai salah satu Warisan Budaya Dunia (World Heritage) oleh UNESCO pada tanggal 2 Oktober 1999 lalu.

Padahal tidak hanya Indonesia saja loh yang mempunyai karya seni dan memproduksi batik. Setidaknya saya mencatat ada 12 negara lain seperti China, Malaysia, Thailand, Azerbaijan, Kamerun / Afrika, India, Singapura, Brunai Darussalam, Jepang, Sri Lanka, Mesir dan Senegal.

Industri Bati Dunia

Masuknya batik sebagai warisan dunia ini melengkapi 5 budaya asli Indonesia yang lebih dulu diakui dunia, yakni Wayang Kulit (UNESCO, 7 November 2013), Keris (UNESCO, 25 Nopember 2005), Lagu Rasa Sayange (Malaysia secara defacto mengakui, 12 Nopember 2007), Reog Ponorogo ( Malaysia secara defacto mengakui, 29 Nopember 2007), Tari Pendet (Discovery Channel Singapore, 2009).

Kebanggaan dan kecintaan saya juga semakin menjadi-jadi dab, ketika kotaku tercinta, Jogjakarta, juga diakui sebagai Kota Batik Dunia (World Batik City) oleh World Craft Council pada tanggal 18-23 Oktober 2014 di Dogyang Tiongkok China. Pengukuhan ini menjadikan Jogja yang istimewa menjadi semakin istimewa pokoke. Buangga puolllll dab….

Pencapaian prestisius ini menunjukan kepada dunia bahwa republik ini memang kaya akan budaya, tradisi dan kesenian sebagai bagian dari kedirian bangsa. Saya pikir kebanggaan ini bukan hanya milik saya saja tetapi siapapun orangnya yang mengaku bertumpah darah, berbangsa dan berbahasa yang satu Indonesia, ya nggak? Ini berarti termasuk sampeyan juga, loh dab.

 

KENAPA BATIK INDONESIA, KENAPA JOGJA?
Tetapi kita juga mesti tahu nih dab, apa alasannya, kenapa Batik Indonesia yang justru ditetapkan UNESCO sebagai warisan dunia dan bukan batik produksi negara -negara lain.

Ada 2 (dua) alasan mendasar, dab. Pertama, UNESCO hanya mengukuhkan batik TRADISIONAL BUATAN TANGAN melalui proses kreatif para pembatiknya. Istilah populernya adalah Batik Tulis, bukan batik seperti kepunyaan negara-negara lain yang dibuat dengan cara di printing (Printed Batik).

Batik tulis Indonesia ini pembuatannya ‘njlimet’ dan detail. Tingkat kesulitan dalam pembuatannya sangat tinggi sehingga membutuhkan keahlian yang sangat spesifik dan khusus. Ini hanya dilakukan oleh orang-orang Indonesia terutama pengrajin batik Jawa yang terkenal sabar dan telaten…seperti saya dab..:)

Ya, tentu saja harganya jauh lebih mahal dibanding dengan model printing. Hal ini disebabkan karena kualitas bahan yang digunakan, keorisinilan corak serta prosesnya yang rumit. Tapi dijamin ekslusive dan mriyayeni kalau dipakai. Orang Jogja bilang “Ono Rego, Ono Rupo”, gitu dab.

Pada perkembangan lebih lanjut selain batik tulis, muncul juga Batik Cap Satu Warna dan Batik Cap Dua Warna yang dibuat dengan menggunakan alat khusus terbuat dari logam yang diberi corak/ornamen. Cara pembuatannya seperti orang nyetempel….jedog…gitu.

Kedua, memenuhi syarat disclosure of origin yakni pengungkapan riwayat asal-usul pengetahuan tradisional termasuk ekspresi budaya tradisional.

Tak dipungkiri lagi bahwa batik Indonesia merupakan warisan budaya asli turun-temurun yang masih terpelihara dengan baik hingga saat ini, dab. Sedikit mengulas sejarah, fakta menyebutkan bahwa batik sudah populer sejak abad ke-17. Itu artinya, batik sudah ada di jaman Majapahit dan masa penyebaran agama Islam.

Semula ornamen batik hanya dilukis pada daun lontar dengan dominasi gambar binatang dan tanaman. Setelah itu, lambat laun muncul motif abstrak berbentuk awan, relief candi, wayang beber, dan sebagainya.

Kalau batik Jogja sendiri mulai di kenal pada masa raja Penembahan Senopati I (Kerajaan Mataram ke-1) dengan pusat kerajinananya berada di wilayah Plered. Saat itu pembutannya masih terbatas untuk lingkungan keluarga kraton dan dikerjakan oleh wanita-wanita pengiring ratu. Artinya batik saat itu hanya untuk kaum priyayi dan yang mempunyai garis keturunan keraton.

Penyebaran batik hingga keluar Jogja disebabkan peperangan yang menyebabkan keluarga keraton bercerai berai dan mengungsi ke berbagai wilayah lain seperti Banyumas Pekalongan, Ponorogo, Tulung Agung bahkan sampai Indramayu. Dari sinilah akhirnya muncul batik yang dikalim sebagai ciri khas daerah masing-masing.

Pada awal berkembangan, batik hadir di tengah-tengah masyarakat Jawa yang penuh dengan tata krama dan filosofi hidup. Oleh sebab itu tiap-tiap motif batik pun dibuat dengan mengadopsi filosofi hidup orang Jawa. Ada yang menggambarkan tentang status sosial, pergaulan masyarakat setempat, adat dan tata cara, alam, sejarah dan lain sebagainya. Jadi, UNESCO enggak salah memberi predikat batik Indonesia sebagai warisan dunia.

Trus, kenapa Jogja juga dianugerai sebagai kota batik dunia oleh UNESCO ?

Jogja itu sudah dari dulu dikenal sebagai pusat seni dan budaya Jawa klasik seperti batik, tari kerajaan, tarian rakyat, drama, musik, puisi dan berbagai macam jenis kerajinan/seni rakyat seperti gerabah, gamelan, alat musik dan lain sebagainya. Ada lebih dari 75.000 pembuat kerajinan di Jogja.

Jogja juga unik karena mampu mempertahankan tradisi Jawa yang adiluhung dan menyandingkan dengan budaya kekinian. Di pusat kota terdapat Kraton Yogyakarta yang merupakan simbol kerajaan di masa lampau, juga terdapat istana kecil yang dipimpin oleh Pakualam yakni Puro Pakualaman, nah bagian utara merupakan wilayah kota yang modern.

Jogja juga dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan tinggi di Indonesia, dab. Tak kurang dari 136 perguruan tinggi ada di Jogja berbentuk akademik, politeknik, sekolah tinggi, institut dan universitas.

Selain anotasi diatas, UNESCO juga menilai berdasarkan kriteria-kriteria tertentu. Monggo kita sama-sama lihat infographic berikut. Ini adalah 7 kriteria penilaian UNESCO yang saya maksud, dan semuanya memang dimiliki Jogja, dab.

Alasan Keistimewaan Jogja

KEUNTUNGAN, PELUANG & TANTANGAN
Menelisik tentang keuntungan dua perhargaan UNESCO ini, langsung maupun tidak langsung akan memperkuat branding “Wonderful Indonesia” sebagai program pariwisata nasional yang berimplikasi pada jumlah kunjungan wisman ke negara kita dan Jogja pada khususnya.

Ekonomi daerah kunjungan akan bergairah mulai dari jasa travel, hotel, pedagang souvenir, tempat wisata dan lain sebagainya. Salah satu contohnya adalah Gelaran JIBB (Jogja Internasional Batik Biennale) 12-16 Oktober 2016. Siapa yang diuntungkan, berapa perputaran uang di Jogja dari hadirnya delegasi 15 negara termasuk Indonesia.

Batik juga berpotensi mendongkrak PDB (Produk Domestik Bruto) dan PNP (Produk Nasional Bruto). Pasalnya, pasca ditetapkannya batik sebagai warisan dunia menstimulir tumbuhnya Industri Kecil Menengah (IKM), pun juga ekport batik ke luar negeri.

Dalam kurun waktu 2011 hingga 2015, jumlah industri batik tumbuh dari 14,7% dari 41.623 unit menjadi 47.755 unit. Pertumbuhan postif ini segaris dengan pertumbuhan tenaga kerjanya dari 173.829 orang menjadi 199.444 orang atau tumbuh 14,7%.

Export batik dalam kurun waktu yang sama juga naik drastis, dab dari Rp 43,96 triliun di tahun 2011 naik menjadi Rp 50,44 triliun pada tahun 2015.

Batik Indonesia
Batik Indonesia

Walaupun begitu, selain sebagai kehormatan dan peluang, dua gelar ini juga membawa tantangan tersendiri dan sangat disayangkan kalau tidak dimanfaatkan dengan baik. Skenario pemikirannya seperti di bawah ini, dab.

Alasan Keistimewaan Jogja

KEKHASAN BATIK JOGJA
Batik di setiap daerah mempunyai ciri khas masing-masing baik corak, gaya maupun makna filosofi yang terkadung di dalamnya. Begitu pula dengan batik Jogja juga memiliki kekhasan tersendiri dibanding daerah lain. Secara penampakan batik Yogyakarta memiliki ciri khas latar yaitu dasaran cenderung putih bersih atau hitam dengan warna ornamen biru tua kehitaman dan coklat soga. Pola geometrinya selain besar-besar juga khas dengan ornamen parang dan nitik.

Motif batik Jogja secara umum terbagi menjadi 2 (dua) yakni Geometris dan Non-Geometris. Yang geometris terdiri atas motif parang dan diagonal, persegi/persegi panjang, silang atau motif ceplok & kawung, dan motif bergelombang (limar). Sementara non-geometris terdiri atas semen yang mengambil personifikasi flora, fauna, gunung dan sayap yang dirangkai secara harmonis, buketan, dan lunglungan.

Seiring dengan perkembangan jaman, pengrajin batik terus berinovasi menciptakan motif-motif baru tanpa meninggalkan tradisi. Nah, dibawah ini adalah beberapa motif yang popular di masyarakat. Sampeyan suka yang mana, dab ?

Batik Jogja
Batik Jogja

Batik Indonesia ternyata disukai dan dipakai para pesohor mulai dari presiden, pebisnis hingga musisi kenamaan kelas dunia, dab. Ini bukti nyata kalau batik Indonesia benar-benar telah mendunia. Ada yang tidak sampeyan kenal dari gambar pesohor dunia berikut, dab ?

Batik Jogja

INOVASI PRODUK BATIK
Apakah batik hanya untuk fashion ? Tentu saja tidak, dab. Orang Indonesia itu sangat kreatif. Di tangan para pengrajin, batik bisa dibuat untuk apapun seperti sepatu, topi, souvenir penganten, kotak perhiasan, tas, kipas, casing smartphone dan sebagainya. Apapun pokoknya.

Hampir semua tempat wisata di negeri ini pasti menjual kerajian tangan/souvenir, yang seluruh atau sebagian menggunakan ornament batik. Kerajinan dari batik ini unik, maka digemari para wisatawan dalam dan luar negeri. Bukankah ini peluang bisnis kerakyatan yang bagus, dab?
Inovasi Produk Batik

LANGKAH KECIL PELESTARIAN
Dab, kebanggaan kita atas batik Indonesia dan kota Jogja hendaknya diikuti tindakan nyata dalam melestarikannya. Minimal adalah membiasakan diri memakai batik bagi anggota keluarga, walaupun hanya sekedar untuk acara-acara di kampung atau keluarga. Lebih-lebih kalau menjadi pakaian harian. Prinsipnya adalah “You Show Me I’ll Remember, You Tell Me I’ll Forget”. Jangan hanya diceritakan dab, tunjukkan dan beri contoh dengan memakainya.

Ajak juga keluarga dan orang-orang terdekat sekali-kali untuk wisata edukasi ke musem batik atau sentra-sentra pengrajin batik, agar mereka kenal dan semakin mencintainya. Di Jogja ini terdapat lebih dari 3000 IKM (Industri Kecil Menengah) yang memproduksi batik dan produk-produk yang menggunakan batik, dab. Galery dan museum juga banyak, bahkan menyediakan fasilitas untuk praktek bagaimana itu membatik. Apa yang kurang, dab?

Nyakin sajalah, walaupun langkah ini nampak kecil tetapi berdampak besar bagi anak-anak kita dan generasi muda pada umumnya di masa mendatang, untuk menjaga batik tetap lestari sepanjang masa.

Pelatihan Batik

Lain daripada itu, menurut saya masih ada kekurangan yang perlu segera dicarikan solusi. Katakanlah ini bentuk kritikan, karena saya merasa memiliki batik, Indonesia dan Jogja pada khususnya. Walaupun menyandang predikat sebagai Kota Batik Dunia dan menjadi Batik Resource Center International akan tetapi branding batiknya belum ‘cetar membahana’ di Jogja ini. Sedihnya tuh disini, dab.

URUN REMBUG
Kalau boleh, untuk Jogja saya mau usul kepada Kanjeng Sultan, dab. “Nyuwun agunging samodra pangaksami Sinuwun Kanjeng Sultan, kawulo nderek urun rembug. Mugi-mugi mboten dados dukoning panjenengan ndalem”,

Memperkuat lagi materi batik dalam kurikulum hingga tingkat sekolah menengah pertama. Ini untuk alasan jangka panjang, karena kelak merekalah yang akan meneruskan dan bertanggung jawab atas lestarinya batik sebagai warisan budaya dan Jogja sebagai kota batik dunia;
Re-branding Monumen Batik yang berada di titik 0 km sebagai salah satu icon wisata perkembangan batik di Jogja. Saya yakin masih banyak sederek-sederek yang belum tahu sejarah dan keberadaan monumen tersebut.

Perlu inovasi untuk menvisualisasikan batik di setiap tempat baik instansi pemeritah maupun swasta seperti balai desa, kecamatan, Instansi pemerintah dan swasta, institusi pendidikan, tempat-tempat wisata, hotel, halte dan ruang publik lainnya.

Bentuknya bisa maskot, pengecatan pos kamling berornamen batik, halte bis bernuasa batik dan lain sebagainya;
Nah, begitu ya dab nyuwun pamit, semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi untuk Indonesia yang lebih baik dan Jogja yang semakin istimewa.