preloder
Candi Sambisasi

Saya salah satu orang yang menyukai traveling dengan mengunjungi tempat wisata yang mempunyai nilai sejarah. Candi, keraton, benteng, masjid dan apapun yang ada kaitannya dengan sebuah riwayat masa lampau. Tempat-tempat wisata seperti itu biasanya sangat exotic sebagai refleksi cita rasa dan gambaran aestetika orang-orang terdahulu.

Bumi nusantara yang pada awal mulanya tersusun atas kerajaan-kerajaan besar dan kecil memberikan kontribusi besar pula atas peninggalan-peninggalan bersejarah tersebut. Begitu juga dengan keyakinan yang dianut masyarakatnya saat itu, yakni Hindu dan Budha. Kedua keyakinan ini telah menyumbang peninggalan berupa candi, stupa, patung dan lain-lain yang banyak sekali.

Masuknya Islam di bumi Nusantara melalui proses perdagangan yang dilakukan oleh saudagar Timur Tengah (Persi) yang akhirnya mendorong berdirinya kesultanan-kesultanan Islam di beberapa wilayah semakin memperkaya peninggalan-peninggalan sejarah tersebut. Hampir semua tempat kita bisa menjumpai bangunan masjid tua jaman dulu, makam para aulia, dan lain sebagainya.

Salah satu peninggalan berupa candi yang exotic dan sering saya kunjungi adalah Candi Sambi Sari. Hanya membutuhkan waktu 10 menit dari tempat tinggal saya. Candi ini salah satu yang terdekat dari tempat saya tinggal selain Candi Prambanan dan Candi Boko

Candi Sambi Sari dibangun pada masa kejayaan Hindu di tanah Jawa. Menurut sejarah, Candi Sambisari dibangun tahun 812-838 M saat pemerintahan Raja Rakai Garung dari Kerajaan Mataram Hindu (Mataram Kuno).

Letusan Gunung Merapi yang dahsyat di tahun 1006 mengakibatkan candi ini tertutup oleh bahan-bahan yang berasal dari gunung berapi. Candi Sambisari diketemukan sekitar tahun 1966 oleh seorang petani yang bernama Karyoinangun.

Pada tahun yang sama, Balai Arkeologi Yogyakarta melakukan penggalian dan penyusunan kembali rangkai an candi yang hampir keseluruhan badan bangunannya tertimbun tanah erupsi Merapi. Pada tahun 1987 dilakukan pemugaran dan rekontruksi ulang terhadap kompleks candi .dan diselesaikan dengan posisi candi terletak pada kedalaman 6,5 meter dari permukaan tanah. Karena posisinya tersebut, sering juga candi Sambisari disebut sebagai candi bawah tanah karena posisinya berada di komplek yang lebih rendah dari hunian penduduk sekitar.

Bagi yang suka narsis, di komplek candi yang lebarnya hanya 15,65 x 13,65 m dengan badan utama candi seluas 5 x5 m anda akan mendapatkan obyek foto yang exotic serta angle dan komposisi yang sangat bagus. Tiket masuknya pun hanya Rp. 2.000 untuk orang dewasa dan Rp. 1.000 untuk anak-anak. Pada hari-hari tertentu anda bisa bertemu langsung dengan Bapak Karyowinangun yang berjasa menemukan candi ini, seperti saya.

Gak lengkap ke jalan-jalan ke Yogyakarta kalau tidak mampir ke Candi Sambisari yang berada di jalan Jogja- Solo Km. 15 Sambisari Purwomartani Kalasan – Sleman

Karyowinangun