preloder

MENYEMAI DUA BENIH, MEMANEN BAHAGIA DI HARI TUA

Feb 19, 2017 | EKONOMI | 3 comments

Bahagia di hari tua ?

Siapa sih orangnya yang tidak menghendaki bahagia di hari tua. Saya, anda dan 256.2 Juta jiwa penduduk Indonesia bahkan 7,3 milyar penduduk dunia saat ini pasti menghendakinya. Artinya kebahagiaan hidup hari tua adalah cita-cita hampir seluruh entitas kehidupan yang bernama manusia.

Hari tua tidak akan lama, kok. Bila kita diberi umur panjang, Ia pasti akan segera datang menghampiri kita. Menjadi tua itu sebuah “general truth” dan kodrati manusia, bukan pilihan.

Pertanyaannya adalah apakah kebahagiaan di hari tua itu dan bagaimana kita mempersiapkan hari tua yang bahagia ?

|

Menjadi tua adalah kodrati manusia, tetapi menjadi tua dan bahagia adalah pilihan.

BAHAGIA DI HARI TUA ITU SEPERTI APA, SIH ?

Sebagian orang bisa jadi mengartikan bahagia di hari tua adalah hidup yang mapan, tidak memiliki persoalan apapun dan tanpa beban hidup yang berat. Ini benar, walapun jika kita dalami, kebahagiaan hari tua bukan hanya sebatas itu saja.

Menurut saya, bahagia di hari tua adalah kondisi dimana kesempurnaan dalam hidup telah tercapai. Terbebas dari penyakit fisik, dari penyakit jiwa, stress, cemas, depresi serta semua kebutuhan terpenuhi sesuai seiring bertambahnya usia.

Yang penting, fisik tidak lagi dimanfaatan untuk bekerja keras (kasar) serta kemapanan religi karena semakin bertambah keimanan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Intinya adalah masa tua adalah masa-masa kita menuai apa yang kita tanam di waktu muda.

Walaupun kebahagiaan hari tua nyaris menjadi cita-cita manusia, akan tetapi tidak semua orang benar-benar memikirkannya dengan baik dan merencanakan sesegera mungkin sedari tubuh masih diberi kemampuan untuk berusaha.

Tanpa perencanaan sedini mungkin mustahil hari tua yang bahagia dapat diraih. Dengan kata lain bahagia hari tua tidak datang dengan sendirinya tetapi adalah hasil dari usaha, upaya dan perencanaan

Entah sadar atau tidak, tak sedikit pula orang justru menggadaikaan kebahagiaan hari tua dengan gaya hidup (lifestyle) yang tidak mendukung sama sekali. Salah satunya adalah gaya hidup hedonis dengan menghabiskan resources yang dimilikinya hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup saat ini tanpa memikirkan hari esok.

Kebahagiaan hari tua bila kesempurnaan dalam hidup telah tercapai, terbebas dari penyakit fisik, penyakit jiwa, stress, cemas dan depresi. Kemudian semua kebutuhan terpenuhi dan semakin bertambah keimanan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

2 (DUA) BENIH UNTUK
KEBAHAGIAAN DI HARI TUA

K ebahagiaan hari tua itu ibarat padi yang sudah menguning di sawah. Bayangkan kita adalah petani yang telah menanamnya hingga menguning dan siap panen tersebut. Tahukah kita bahwa, padi yang menguning dan siap dipanen itu mengalami proses yang panjang dan perlakuan-perlakukan tertentu. Proses itu saling terkait satu dengan yang lainnya. Bila salah satu proses terlewatkan maka besar kemungkinan akan mengganggu bahkan menurunkan kualitas hasil panen, dan tentu saja kebahagiaan petani yang menanamnya.

Pertama-tama, pak tani perlu membajak sawah dan mengairinya dengan air yang cukup. Setelah itu pak tani memilih bibit yang akan ditanam, disemaikannya beberapa saat hingga siap untuk ditanam. Baru kemudian bibit tersebut ditanam dengan cara dan aturan-aturan dan pola tertentu seperti jarak satu bibit dengan bibit yang lain dan sebagainya.

Kedua, setelah bibit itu ditanam, perlakuan selanjutnya adalah memberi pupuk agar subur dan serta merawat dari rumput (gulma) yang mengganggu, hama dan penyakit-penyakit tanaman yang dapat merusak tanaman. Setelah padi mulai menguning, pak tani juga menjaganya dari burung-burung nakal yang mencoba mencuri bulir-bulir padi itu.

Ketiga, setelah masanya tiba, barulah padi itu dituai atau dipanen. Pak tani puas karena hasil jerih payahnya terbayar dengan hasil panen yang baik sesuai dengan harapan. Hasil panen tersebut di panggul di bawa pulang untuk makan sekeluarga atau dijual kepada tengkulak dengan harga yang bagus.

Keempat, beberapa hari setelah itu pak tani menikmati uang hasil panen tersebut sembari leyel-leyeh dibangku teras rumah sambil nyruput kopi sambil menunggu waktu tanam selanjutnya. Betapa bahagia pak tani.

Nah, begitu pula dengan kebahagiaan di hari tua. Ia membutuhkan proses dan cara untuk menggapainya. Kalau kita salah proses dan terlambat berproses maka masa tua tidak akan bahagia, bisa jadi malah sebaliknya.

Kita juga perlu menyadari bahwa usia tua identik dengan menurunnya produktifitas, berkurangnya kelincahan dan semakin melemahnya fisik seseorang. Hal ini menyebabkan tubuh tidak kuat lagi untuk bekerja keras.

Melemahnya fisik ini, tubuh juga semakin rentan dihinggapinya beberapa penyakit. Kita perlu melihat kenyataan secara umum, bahwa semakin bertambah umur maka biaya perawatan kesehatan juga semakin besar pula. Ini berbanding terbalik dengan produktitas. Coba lihat ilustrasi di bawah ini.

Dengan melihat ilustrasi diatas, maka tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak mempersiapan diri menyambutnya. Cara terbaik adalah dengan menanam benih-benih kebahagiaan yang akan kita panen di hari tua. Berikut ini adalah 2 (dua) benih kebahagiaan hari tua yang perlu kita tanam sedari sekarang, sedari kita masih diberi kesehatan dan kemampuan untuk mempersiapkannya.

Bahagia Di Hari Tua

#1 – MENERAPKAN GAYA HIDUP SEHAT & POLA HIDUP SEHAT

Untuk merasakan hidup bahagia di hari tua maka menerapkan gaya sehat sedari muda tidak bisa ditawar lagi. Gaya hidup sehat meliputi pola makan, pikiran, kebiasaan dan lingkungan yang sehat.

Sedangkan pola hidup sehat adalah gambaran dari aktivitas/kegiatan yang di dukung oleh minat, keinginan dan bagaimana pikiran menjalaninya dalam berinteraksi dengan linkungan. Artinya pola hidup sehat adalah pola untuk mencapai gaya hidup sehat.

 

POLA MAKAN & JENIS MAKANAN

OLAH RAGA

ISTIRAHAT CUKUP

LINGKUNGAN SEHAT

POSITIF THINKING

#2 – BIJAK MENGELOLA  PENDAPATAN

Mengatur pendapatan di waktu kita masih produktif menjadi hal yang sangat penting bila kita berharap bisa bahagia di hari tua. Ada banyak cara bagaimana mengatur pendapatan agar produktif dan bermanfaat. Selain menabung, mengatur pendapatan bisa juga dengan berinvestasi dalam arti luas dan mengikuti program-program perlindungan seperti Jaminan Hari Tua (JHT) dan Jaminan Pensiun dari BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial).

Program-program ini selain dimaksudkan sebagai proteksi juga sebagai income pasif di masa tua.

Bahagia Di Hari Tua
Ini adalah ibu Yusriatin. Beliau bukan siapa-siapa. Bukan orang terkenal karena bukan artis atau pejabat negara. Beliau seorang janda dan pensiunan guru SD di sebuah kota kecil Pantura.

Bu Jas, begitu tetangga memanggilnya dengan sebutan nama almarhum suaminya, Jaswadi, kini berumur 70 tahun. Beliau lahir pada tanggal 29 Juni 1947 dan mempunyai 3 (tiga) orang anak dengan 7 orang cucu.

31 tahun beliau mengabdi sebagai guru di sebuah Sekolah Dasar. Beberapa kali beliau menjadi guru teladan tingkat kabupaten. Beliau mengajukan pensiun dini di usia 55 tahun dengan alasan ingin menikmati masa tua bersama cucu-cucunya.

Hidupnya memang sangat bersahaja, tidak berlebihan dan selalu membelanjakan rejeki yang didapatnya untuk membantu siapa saja dan sisanya beliau tabung di sebuah bank milik pemerintah daerah. Berbekal gaji sebagai guru SD, Bu Jas berhasil menyekolahkan ketiga anaknya hingga S1.

Sejak tahun 1992 (umur 45), beliau divonis dokter terkena Diabetes (gula darah) yang kemungkinan besar disebabkan karena keturunan, karena Bu Jas tidak menyukai “medang, ngeteh dan ngopi manis” sedari remaja. Sadar akan penyakitnya, Bu Jas disiplin untuk menjaga pola hidup sehat. Oleh sebab itu beliau selalu sehat dan tidak pernah sekalipun masuk rumah sakit karena penyakit ini.

Atas ijin Allah, tahun 2010 beliau berangkat haji dari rejeki yang ditabungnya selama bertahun-tahun. Sampai saat ini Bu Jas tetap sehat, masih mengikuti kegiatan-kegiatan sosial di kampung dan menikmati masa tua dengan bahagia bersama anak, menantu dan cucu-cucunya di kota bawang dan telur asin, Brebes.

Siapa Bu Jas ? saya tahu dan saya paham betul Bu Jas karena beliau adalah ibu saya yang selalu saya nantikan doa’ dan restunya. Ini adalah contoh kecil kebahagiaan masa tua, kebahagiaan yang dicapai karena menyemai 2 (benih) kebahagiaan di masa muda.

 

PROGRAM BPJS
JAMINAN HARI TUA (JHT)
SOLUSI CERDAS
BAHAGIA DI HARI TUA

Bahagia Di Hari Tua
Bahagia Di Hari Tua
Bahagia Di Hari Tua

KARYAWAN OTOMATIS MENDAPATKAN MANFAAT JHT

Program Jaminan hari tua (JHT) adalah salah satu program andalan BPJS Ketenagakerjaan yang diperuntukkan bagi tenaga kerja atau peserta yang bekerja kepada pihak pemberi kerja. Program JHT ini sebagai pendukung program BPJS lainya seperti JK (Jaminan Kematian) dan JKK (Jaminan Kecelakaan Kerja).

Kalau kita adalah seorang karyawan maka secara OTOMATIS menjadi peserta BPJS dan mendapat manfaat dari program JHT. Hal ini sesuai dengan UU BPJS pasal 1 Angka 4 yang menyebutkan bahwa

“Peserta adalah setiap orang, termasuk orang asing yang bekerja paling singkat 6 (enam) bulan di Indonesia, yang telah membayar iuran.” 

Dan mengenai kepesertaan karyawan dalam program BPJS ketenagakerjaan ini telah diatur pada pasal 15 ayat 1 yang berbunyi, 

“Pemberi Kerja secara bertahap wajib mendaftarkan dirinya dan Pekerjanya sebagai Peserta kepada BPJS sesuai dengan program Jaminan Sosial yang diikuti.”

 

Bahkan, bagi perusahaan yang tidak mengikutsertakan karyawannya justru terancam sanksi dari pemerintah. Sanksi itu bisa berupa :

a. Teguran tertulis;  (oleh BPJS)
b. Denda; dan/atau; (oleh BPJS)
c. Tidak mendapat pelayanan publik tertentu. (oleh Pemerintah atau pemerintah daerah atas permintaan BPJS)

Terkait sanksi tidak mendapat pelayanan publik tertentu yang dikenai kepada Pemberi Kerja Selain Penyelenggara Negara meliputi

  1. Perizinan terkait usaha;
  2. Izin yang diperlukan dalam mengikuti tender proyek;
  3. Izin memperkerjakan tenaga kerja asing;
  4. Izin perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh; atau
  5. Izin Mendirikan Bangunan (IMB

Ketentuan ini didasarkan pada PP 86 tahun 2013 pasal 3 ayat (1) tentang Tata Cara Pengenaan Sanksi Administratif Kepada Pemberi Kerja Selain Penyelenggara Negara dan Setiap Orang, Selain Pemberi Kerja, Pekerja, dan Penerima Bantuan Iuran Dalam Penyelenggaraan Jaminan Sosial.

PEKERJA MANDIRI JANGAN KWATIR. KITA JUGA BERHAK MENDAPATKAN MANFAAT JHT BPJS

Bahagia Di Hari Tua
Bahagia Di Hari Tua
Bahagia Di Hari Tua
Peserta BPJS Ketenagakerjaan untuk pekerja mandiri disebut Bukan Penerima Upah (BPU) yakni adalah pekerja yang melakukan kegiatan atau usaha ekonomi secara mandiri untuk memperoleh penghasilan dari kegiatan atau usahanya tersebut yang meliputi : Pemberi Kerja; Pekerja di luar hubungan kerja atau Pekerja mandiri dan Pekerja yang tidak termasuk pekerja di luar hubungan kerja yang bukan menerima Upah, contoh Tukang Ojek, Supir Angkot, Pedagang Keliling, Dokter, Pengacara/Advokat, Artis, dan lain-lain

Untuk pekerja mandiri dapat mengikuti program BPJS Ketenagakerjaan secara bertahap dengan memilih program sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan peserta. Untuk pendaftaran bisa datang sendiri langsung ke Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan atau mendaftar melalui wadah/kelompok/Mitra/Payment Point (Aggregator/Perbankan) yang telah melakukan Ikatan Kerja Sama (IKS) dengan BPJS Ketenagakerjaan.

Jangan gadaikan kebahagiaan hari tua kita. Mari menyemai benih kebahagiaan dari sekarang dengan menerapkan gaya hidup sehat dan pola hidup sehat serta bijak dalam mengelola pendapatan kita dengan menabung, investasi dan mengikuti program-program pemerintah dalam BPJS Ketenagakerjaan. Semoga tulisan blog ini bermanfaat bagi siapa saja untuk Indonesia Sehat, Indonesia Cerdas dan Indonesia sejahtera.