preloder




“Adek, sudah jam tiga, ayo mandi dulu trus mengaji.” Panggil Papanya dari dalam garasi yang bersebelahan dengan teras rumah dan kamar depan. 

“Ya, bentar, pa. 5 Menit lagi” Jawab Ayunda. Nampaknya dia masih asik dengan crayon dan kertas mewarnainya di teras rumah. Aku yang sedari tadi sibuk merapikan kamar depan menjadi tersenyum mendengar jawaban Ayunda. Ya namanya juga anak-anak, pikirku. Harus sabar betul mendampingi proses perkembangannya. Ayunda memang beda dengan kakaknya, Arya, yang lebih lembut dan penurut. Wataknya yang agak keras dan gak mau kalah terkadang membuat sedikit kewalahan dalam mengasuhnya. 
Tak ingin mendengar papanya menyuruh untuk kedua kali, aku segera keluar kamar dan menghampiri Ayunda. 
“Eh, adek kok ngomong gitu sama orang tua. Nggak Boleh ya. Nanti Allah marah lho sama adek. Katanya mau jadi anak sholeh hayooo, nggak boleh gitu ya sayang. Ayo, mainnya sudah dulu. Mandi dulu trus ngaji yuk. Jangan sampai papa marah.”  Bujukku sambil memeluk dan mencium rambutnya dari belakang. 
Entar mam, 5 menit lagi ya, mam” Rajuknya dengan pandangan nampak serius pada sketsa motor yang baru separo diwarnainya. Aku kembali tersenyum. Rupanya Ayunda sudah meniru kebiasaan buruk papanya yang selalu mengatakan 5 menit lagi kalau dibangunkan dipagi hari. Bahaya, pikirku. 
Sumpah, aku mestinya tidak tega hati merusak keasikannya bermain, tetapi aku harus tega demi kebaikannya kelak. Aku pegang kedua bahunya. 
“Sudah, ayo ah…sudah jam tiga, nanti keburu sore.” Bujukku sambil membimbingnya berdiri dan membantunya mengemasi perlengkapan mewarnainya yang berantakan di meja teras. Walaupun nampak sedikit kesal, akhirnya Ayunda nurut juga untuk segera mandi.

“Jangan lupa menggosok gigi ya sayang,” Kataku sesampainya didepan pintu kamar mandi. Tak lama setelah itu, aku dengar suara air mengalir dari shower. Aku segera menyiapkan baju ganti dan perlengkapan lainnya. Maklum saja Ayunda baru berusia 7 tahun. Baru saja masuk sekolah dasar tahun ini, jadi masih perlu dibantu untuk kebutuhan hariannya. 
************ 
Ayunda menyisir rambutnya yang masih basah kemudian memakai jilbab pink kesukaannya. Sejurus kemudian mengambil al-Qur’an besar di samping TV. Aku telah menunggunya sedari tadi di depan TV. Bangga sekali rasanya melihat Ayunda. Al-Qur’an yang dipegang itu adalah hadiah dari ustadzahnya setelah mengkhatamkan Al-Qur’an ketika duduk dibanku TK. Ayunda adalah salah satu dari 3 siswa yang khatam.

“Knapa sih mah kok terus mengaji, kan adek udah khatam Al-Qur’annya.” Tanya Ayunda sambil membuka Al-Qur’an yang telah diberi pembatas kertas sebagai pengingat. Akupun tersenyum sambil memperhatikan wajahnya yang cantik dalam balutan jilbab.

“Walaupun sudah khatam Al-Qur’an, Adek harus tetap mengaji karena Al-Qur’an itu petunjukan jalan bagi umat Islam, sayang,”  Jawabku. Ayunda nampak tidak mengerti atas jawabanku itu. Terlihat sekali dari raut wajahnya.

“Dengan dibaca dan dipahami artinya, maka kita akan mendapat pahala berlimpah, di sayang sama Allah dan dimudahkan apabila mendapat kesulitan,” Lanjutku berusaha menyederhanakan bahasa agar dipahami olehnya.

“Oh gitu ya ma, berarti kalau adek baca Al-Qur’an terus akan ditolong Allah ya ma kalau nanti ujian sekolah?” Tanyanya lagi. Aku tersenyum mendengar pertanyaannya. Seneng sekali Ayunda sudah sedikit memahami penjelasanku walaupun dengan pemahaman yang sangat sederhana.

“Insya Allah, sayang. Allah akan menolong bila adek rajin membaca Al-Qur’an. Udah yuk mengaji dulu,” Kataku

Setelah itu, Ayunda membuka Al-Qur’an yang didepannya dan mulai membacanya dengan perlahan-lahan dari ayat terakhir yang dibaca tempo hari.

“Bismillahirrohmanirrohim…..”  

************