preloder
Panggilan Ibrahim

Apakah anda seorang muslim ? Kalau iya, itu berarti anda dan saya seiman. Tetapi apakah anda juga mempunyai kerinduan seperti yang saya rindukan. Apakah itu, adalah keinginan untuk menyempurnakan status kemusliman kita dengan menunaikan rukun islam yang ke-5, yakni ibadah haji.

Dalam beberapa tulisan tentang rukun Islam tersebut, menunaikan ibadah selalu saja diikuti kata “bagi yang mampu”. Hal tersebut juga ditulis dalam Al-Qur’an sebagai berikut :

“Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.” (QS. 3/Ali Imron: 97)

Sebagai orang awam yang Islamnya masih bersifat KTP seperti saya, kata itu menjadi Bentrok dengan pemikiran saya. Apa sesungguhnya makna dari “bagi orang-orang yang mampu itu ?”. Beberapa sumber mengatakan bahwa kata mampu tersebut merujuk pada kemampuan fisik dan ekonomi.

Terkait dengan fisik, pasti kita sepakat bahwa ibadah haji itu adalah ibadah yang berat, oleh karenannya memerlukan kesiapan fisik yang kuat dan sehat. Kita akan jelas bila membaca rukun-rukun tentang haji. Lalu terkait dengan kemampuan secara ekonomi, hal ini berhubungan dengan bekal perjalanan serta bekal bagi keluarga yang ditinggalkan dirumah.

Bekal yang dimaksud adalah sejumlah materi yang dimilikinya secara tunai tidak karena berhutang. Dalam banyak hadits disebutkan, Rosullullah menjawab “Tidak Boleh” ketika ditanya para sahabat tentang hutang yang dipergunakan untuk menunaikan ibadah haji.

Menurut pemikiran saya, rujukan kata mampu seperti penjelasan di atas merupakan buah olah pikiran manusia semata berdasarkan makna bahasa pada umumnya dan belum menyentuh pada esensi sesungguhnya. Lalu apa yang menyebabkan saya berpendapat demikian?

Saya membaca realita lingkungan, bahwa banyak orang-orang yang mampu disekitar kita. Mereka mempunyai cukup uang. Pekerjaan mapan. Harta berupa rumah, mobil, tanah maupun investasi di bank pun punya. Kenapa banyak yang tidak bisa menunaikan ibadah haji hingga akhir hayatnya ?

Om dan Tante saya hanya seorang pensiunan pegawai Perhutani, hidupnya hanya mengadalkan uang pensiunan tiap bulan. Tetapi, Alkhamdulillah telah menyempurnakan keislamanya dengan menunaikan ibadah haji tahun kemarin. Kok bisa !

Dua hal diatas adalah sekelumit realita yang ada. Masih banyak kepingan-kepingan cerita serupa disekitar kita. Kalau begitu apakah anda masih sependapat dengan saya, bahwa ternyata masih ada penafsiran lain dari kata mampu pada rukun islam yang ke-5 tersebut ?

Lalu bagaimana kalau istillah bagi yang mampu tersebut merujuk pada istilah yang sering kita dengar dimasyarakat bahwa haji itu “panggilan Allah melalui Ibrahim”? Pada dasarnya kata Panggilan Allah mungkin terkesan memihak, karena bisa saja diartikan bahwa orang-orang yang berhaji itu dipangggil karena Allah cinta kepadanya atau Allah telah memilih orang itu. Kalau begitu anda dan saya menjadi orang yang merugi karena tidak menjadi bagian orang-orang yang dipilih Allah.

Kalau memang orang-orang yang berhaji tersebut adalah dipanggil dan dipilih Allah, maka kenapa masih ada cerita, bahwa banyak para jemaah haji yang ketika sampai disana tidak bisa melaksanakan rukun-rukun haji dengan sempurna entah karena sakit atau sesuatu hal.

Atau bahkan cerita jamaah haji yang hanya mampu berpose di depan ka’bah, celaka karena berebut mencium hajar aswad atau menghabiskan waktu untuk tidur, jalan-jalan dan belanja, dan akhirnya tidak mendapatkan gelar haji mabrur di mata Allah sendiri. Apakah kita masih meyakini, bahwa berhaji bagi yang mampu itu adalah panggilan Allah ?

Akhirnya saya mencoba mengambil kesimpulan untuk menyenangkan diri sendiri, bahwa kesempatan menunaikan ibadah haji itu bukan karena mampu atau panggilan seperti Allah seperti apa dijelaskan diatas akan tetapi karena “dimampukan” oleh Allah. Artinya, Orang yang bisa menunaikan Ibadah haji itu karena Allah “mengijinkan”. Allah “memberi” hidayah. Allah “Ridlo” dan Allah “memampukan” orang tersebut atas kuasa-Nya dengan berbagai macam cara yang dikehendaki-Nya.

Lalu apakah kata “dimampukan, diijinkan, diberi hidayah, mendapat ridlo” itu muncul dengan sendirinya?. Dalam kemampuan alam pikir saya yang awam mengatakan “tidak”. Itu bukan datang dengan sendirinya. Itu mutlak dan wajib bagi kita untuk memintanya. Oleh karena hanya ada dua (dua) hal yang berperan penting sebagai pintu pembuka, yakni Niat dan Doa (untuk dimampukan). Banyak dalil-dalil maupun Firmal Allah terkait dengan kedua hal tersebut.

Nah, dari pembahasan ini berarti anda dan saya pun sesungguhnya berkesempatan mengunjungi Mekah, menunaikan Ibadah Haji bila Allah mengijinkan, Allah Ridhlo, Allah memampukan kita, walaupun secara ekonomi kita seolah kita tidak mampu.

Wallahu a’lam bishawab