preloder
Ratu SPBU

Selain mulutmu harimaumu, kini ketambahan satu peribahasa lagi yakni statusmu harimaumu. Bila kurang bijak dalam mengekspresikan uneg-uneg sebagai status di socmed maka bisa berakibat seperti Florence ‘Ratu SPBU’ Sihombing.

“Jogja Miskin, Tolol dan tak berbudaya. Teman-teman Jakarta-Bandung jangan mau tinggal di Jogja” – ini salah satu status yang menjadikan Florence sebagai orang paling berani sekaligus paling dicari di Jogja seminggu ini.

Tak pelak, status yang diunggah di media sosial Path ini dianggap merendahkan dan menghina ‘Wong Jogja’ .

Flo, nama panggilan Florence, tidak sekedar di demo untuk minta maaf, beberapa Komunitas Pencinta Jogja seperti LSM Jatisura (Jangan Khianati Suara Rakyat) menyerukan agar Flo diusir dari kota Gudeg bahkan melaporkan kepada kepolisian atas tuduhan pencemaran nama baik kelompok masyarakat berdasar pasal 27 ayat 3, 28 ayat (2) UU ITE no 11 tahun 2008 Jo pasal 310 dan pasal 311 KUHP.

Flo ditetapkan sebagai tersangka dan harus merasai dinginnya jeruji besi penjara Polda D.I. Yogyakarta selama tiga hari sejak Sabtu (30/8) dan akhirnya ditangguhkan penahanannya atas jaminan keluarga dan almamaternya, Senin (2/9).

Dimana letak kesalahannya perempuan yang berstatus sebagai mahasiswi S2 FH UGM ini ?

a. Salah Memaknai Kebebasan
Sebenarnya kebebasan mengaktualisasikan diri dijamin oleh undang-undang sepanjang masih dalam koridor norma-norma dan adat yang bisa diterima masyarakat. Tetapi, apa yang telah dilakukan Flo telah keluar jauh dari harkat dan martabat sebagai Orang Timur yang berbudaya, beragama dan penuh dengan rasa toleransi.

Flo tidak cukup bijak menggunakan media sosial dalam menyalurkan segala kegundahan hatinya. Uneg-uneg dan ketidakpuasannya atas realitas sosial diungkapkan dengan cara yang salah yakni berupa hinaan, cemoohan, melecehkan serta memprovokasi orang lain untuk mengikuti ajakannya.

b. Salah Menempatkan Diri
Ada pepatah yang mengatakan ‘Dimana Kaki Berpijak, Disitu Langit Di Junjung’ – Tahukah anda arti peribahasa ini ? Ya, artinya adalah dimanapun anda berada, yakinlah bahwa disitu ada peraturan yang wajib kita hormati.

Peribahasa ini selaras dengan unen-unen Jowo yang berbunyi ‘Bedo deso mowo coro’. Sebagai perempuan terpelajar yang sedang menyelesaikan pendidikan S2 di FH UGM, Florence gagal menjaga unggah-ungguh sebagai tamu di rumah orang. Umpatan dan kata-kata bernada cemoohan mungkin sudah terbiasa dilingkungan tempat asalnya, tetapi tidak bagi kebanyakan lingkungan yang lain, begitu pula bagi Jogjakarta.

Selama tinggal di Yogya, Florence tidak benar-benar mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Sikap keras, mudah marah dan temperamental akhirnya berbenturan dengan watak dan budaya asli Wong Jawa yang selalu menjaga sikap sopan, segan, menyembunyikan perasaan alias tidak suka hal yang frontal serta menjaga etika berbicara baik kepada orang sebaya maupun yang lebih tua.

R e n u n g a n
Ibarat tangan menunjuk, maka hanya satu tangan yang benar-benar menujuk keluar, selebihnya adalah menunjuk diri sendiri. Menurut saya, sebutan tolol itu justru disandang flo sendiri, kalau Flo benar-benar pinter maka tidak akan segegabah itu dan berfikir dua kali untuk melecehkan orang lain dan kelompok sosial tertentu di media sosial yang mempunyai effect viral yang dahsyat.

Belajar dari kasus florence, sejatinya bijaksana (wisdom) dan kedewasaan seseorang tidak ditentukan oleh jenjang pendidikannya tetapi sejauh mana orang tersebut mampu mengendalikan diri dan menempatkan diri dalam pergaulan masyarakat.

Mari menjadi masyarakat yang berbudaya dan menjunjung etika !